Selasa, 16 September 2014

Ngasal Cuap : When U decide to Life Alone #randomthinking

Ngasal Cuap : When U decide to Life Alone #randomthinking
hidup itu pilihan cuy
List to Do & Prepared when U decide to
 Life Alone
1.  Have enough money (richer better). 
Its mean u have to have a good career,  have good business, and good investment
2. Be healthy. 
Have a good nutrition, eat well, sleep well, get exercise routinely so u  still can be health and  be  productive till 70 y.o
3. Make more relationship, more friends, more network, more connection.

Accidental Story of Wamena (6) : List of Wamena 2014



Accidental Story of Wamena (6) : List of Wamena 2014
merchandise from wamena
Wamena itu  :
·    Wamena, berasal dari bahasa Dani, Wam (babi) dan Ena(jinak / anak), yang berarti babi jinak. Wamena merupakan ibukota dari Kabupaten Jayawijaya, salah satu kabupaten yang terletak di Pegunungan Jayawijaya,Papua
·    Wamena merupakan kota yang terletak di ketinggian 1600mdpl dan memiliki suhu udara rata-rata 14-18 derajat celcius. Jangan lupa bawa jacket.*brrr,dingin
·    Lebih dikenal dengan dengan Lembah Baliem, atau Baliem Valley, atau Grand Valley, yang didiami oleh 3 suku asli, Suku Dani, suku Lani, dan suku Yali

Accidental Story of Wamena (5) : Sayurnangka eh Sayonara

Accidental Story of Wamena (5) : Sayurnangka eh Sayonara
angkutannya wamena itu ya minimal strada ato ford ranger

Day 4 : Monday, August 11st 2014 : Sayonara
Last day at Wamena, times for leaving. kakakRoy mengantarkan gw ke bandara, setelah sebelumnya menemani gw belanja markisa dan ipere untuk oleh-oleh keluarga sentani. “hati-hati… salam buat keluarga sentani..”katanya singkat sambil melambaikan tangan. Gw tersenyum. Ah, sungguh kakakRoy yang baik (thx for ur kindness). Di sebuah bangku ruang tunggu gw menunggu setelah sebuah tiket checkin gw pegang dalam genggaman. Ruang tunggu penerbangan yang sederhana. Gak ada checking point, gak ada gate, hanya sebuah ruang yang dibatasi oleh tembok bata dan atap seng. Gak ada LCD untuk pengumuman penerbangan, dan gak ada toilet bersih. Truly wamena. 

Minggu, 14 September 2014

Accidental Story of Wamena (4): Getting Lost Again ?



Accidental Story of Wamena (4): Getting Lost Again ?
Day 3 : Sunday, August 10th  2014 – Telaga Biru Maima
Telaga Biru, Maima
Kalo kebanyakan orang Jawa yang mayoritas adalah muslim menganggap hari jumat adalah hari pendek (karena kegiatan terpotong oleh ibadah shalat jumat), di sini, yang mayoritas adalah masyarakat nasrani, hari pendek itu ya hari minggu, karena aktivitas baru bisa dimulai setelah acara ibadah selesai, sekitar pukul 12.00 siang. Kalo kata temen-temen tu hari Minggu adalah Harinya Tuhan, jadi gak ada aktivitas di minggu pagi, selain ibadah. Di minggu pagi di Wamena itu jalanan sepi, hanya satu dua kendaraan yang berlalu lalang, dan toko-toko pun semuanya tutup, gak ada aktivitas perdagangan kecuali di Bandara, Hotel, dan Rumah Sakit.  This why, agenda untuk hari Minggu, hari ketiga gw dipending hingga siang hari, setelah acara ibadah gereja selesai.

Accidental Story of Wamena (3): Culture and The Outsiders



Accidental Story of Wamena (3): Culture and The Outsiders
Day 2 : Augt 9th 2014 – Hitigima and back to FBLB
Hitigima
Friska kembali mengajak gw gabung dengan acara jalannya. Kali ini, gw pasrah, mo kemana aja, hayuk dah. “soriii.. I’m late..”kata gw yang datang paling belakangan. friska dan teman2nya sudah cukup lama menunggu. “it’s ok, kita juga baru datang koq”kata friska sambil mengenalkan teman-temannya. Teman2 yang juga baru friska kenal hari itu. Ceritanya kakYesa gak bisa antar friska jalan2 so, friska ‘dititipin’ ke temannya yang ada rencana jalan ke luar wamena, tepatnya di hitigima. Dari sini lah gw dikenalin dengan kakGasco, kakSelastina, kak Marthen  dariBelanda (semoga gw gak salah mengingat), dan kakSintike. Bersama mereka, kami baku bonceng, friska dengan kak Sintike,  kakMarthen dg kakSelastina,  Dan gw dg kkGas. Sekitar 30 menit perjalanan, kami tiba di Hitigima, 20km arah timur wamena. Secara letak, posisi hitigima lebih tinggi disbanding kota wamena, sehingga udaranya jauh lebih dingin disbanding wamena (bah, wamena saja udah dingin…). Pemandangan sepanjang perjalanan menuju hitigima gak kalah cantik dengan perjalanan wamena-wosilimo. Ah, gw rasa gak ada pemandangan yang jelek di kabupaten jayawijaya ini. pemandangan yang didominasi padang savanna dengan latar bebukitan menemani perjalanan kami. keluar dari wamena, kami melewati pasar Wouma,kemudian menyeberang jembatan miring yang nyaris ambruk… kakGas said,”it’s maybe the worst bridge I ever see..” motor kkGas mencoba berjalan diatas papan kayu yang sudah pecah di sana-sana, motor dan mobil dari arah berlawanan pun harus baku ganti satu sama lainnya untuk melintasi jembatan.”hold on…”kata kkGas. Gw yang bonceng dibelakang cuman tahan nafas, jangan sampe ban motor ni selip di papan. Agak khawatir sih, but maybe it’s cool!kalo dijawa, jembatan kayak gini mungkin udah masuk tivi kareNa kemiringan jembatan yang terlampau miring dan banyaknya motor dan mobil yang melintasi jembatan ini. jelas, resiko untuk jembatan ini amblas dalam waktu dekat itu besar. padahal sudah ada jembatan baru dan besar di sisi timur jembatan, tapi entah kenapa belum dioprasionalkan dan dibuka. Di sisi lain pemadangan sungai baliem yang terlihat di bawah jembatan nampak begitu menarik perhatian.  Air sungai yang berwarna kecoklatan dan tak memenuhi seluruh lebar sungai menyisakan tepian sungai yang dipenuhi batukerikil-kerikil, yang Uniknya nih, dipakai oleh banyak orang untuk mencuci dan berjemur. Jadi inget sungai di india (kayak di film2 india). Gw perhatiin pakaian2 nampak direntang dijemur dihamparan kerikil, beberapa mama-mama sibuk mencuci pakaian, beberapa lainnya hanya nampak duduk-duduk sambil baku menganyam rambut, dan yang bikin gw kaget adalah beberapa nampak tengkurapan badan ditepian sungai. Meeen, itu lagi berjemur???? Sungguh. Just so unique. Truly like in india.

Accidental Story of Wamena (2): Amaze on Anything

Accidental Story of Wamena (2): Amaze on Anything
 Still on Day 1 : Augt 8th 2014 - FBLB – Goa Lokale – Mumi Jiwika – Bukit Batu – Pasir Putih 
mumi Wimontok Mabel, desa Aikima,Distrik Kurulu

Goa Lokale
Puas menikmati pertunjukan di festival, kami memutuskan untuk meninggalkan area festival dan menuju tempat berikutnya. Goa Lokale, yang hanya berjarak sekitar 200 m sebelah  utara dari lokasi festival. Dari friska, gw kenal kakYesa, seorang batak yang sudah 5 tahun berada di Wamena, yang mengantarkan kami ke Goa ini. ah, ternyata kakYesa sudah sering kemari sehingga kenal dengan masyarakat setempat dan kami dipermudah untuk bisa memasuki goa. Goa Lokale yang kedalamannya belum diketahui ini dipercaya merupakan goa terpanjang di Papua. Dari pintu masuk, kami berjalan sekitar 20 meter melewati banyak pohon pinus untuk bisa sampai di pintu goa. Menurut cerita kakYesa, pernah satu kali seorang warga asing melakukan penelitian untuk mengetahui kedalaman goa ini, tapi sudah 4 hari perjalanan ujung si Goa belum juga ditemukan, sehingga mereka beranggapan goa ini memilik kedalaman yang cukup panjang.

Accidental Story of Wamena (1) : Where am I ?



Accidental Story of Wamena (1): Where am I ?
*Starting to write something

 Day 1 : Augt 8th 2014 - FBLB – Goa Lokale – Mumi Jiwika – Bukit Batu – Pasir Putih
Matahari bersinar malu-malu dari balik kerumunan awan pagi itu ketika gw bersiap berbegas menuju bandara. Ruang tunggu Bandar udara sentani begitu ramai malas meski waktu masih menunjuk pada pukul 06.00 pagi. Waktu bergulir, satu persatu pesawat dengan berbagai jurusan terbang mengikuti pengumuman penerbangan pesawat yang dikumandangkan. Trigana air IL-241 yang seharusnya termasuk pesawat yang terbang di awal tak kunjung disiarkan. Ternyata seperti dugaan banyak orang, trigana terlambat terbang oleh karena banyak alasan. Di salah satu sudut ruang tunggu gw menanti, berkutat dengan gadget untuk sekedar mengalihkan waktu, sambil sesekali mengamati orang-orang di sekeliling.  Susasa ruang tunggu bandara yang ramai mendayu, simpulku.

Trigana ATR = Kursi Pijat
Sekitar pukul 08.15,  1 ½ jam lewat melebihi jadwal terbang seharusnya, pesawat trigana kami pun pada akhirnya lepas landas dan mengudara. Untuk pertama kalinya gw naik pesawat tipe ATR. Dan rasanya naek pesawat ATRnya Trigana itu berasa seperti sedang duduk di kursi pijat, getarannya, terasa dari ujung kaki sampe ujung kepala. Sehingga meski kata orang 30 menit itu cepat, bagi gw, 30 menit dalam pesawat ATR trigana terasa lamaaaa banget *semogalekassampai dengan selamat

jalan-jalan : Pantai Hamadi



Jalan- Jalan : Pantai Hamadi 



 “kamu sgalanya, tak terpisah oleh waktu. Biarkan bumi menolak kutetap cinta kamu..
Judika – mama papa larang

Lagu –lagu Judika meramaikan perjalanan kami sabtu siang itu menuju pantai Hamadi. Piknik Keluarga menjadi tema perjalanan gw kali ini. “yuk.. ke pantai. rame-rame, sekeluarga. Mumpung libur semua” Pinta gw yang pada akhirnya berlanjut dengan 4 mobil yang dipenuhi oleh keluarga besar tante ipar gw. di mobil kakak sepupu gw, ada gw, adek gw, kakak sepupu gw, anaknya, om gw beserta tante dan dua anaknya.
Pantai Hamadi, yang terletak di distrik Hamadi, Kota Jayapura, merupakan salah satu objek wisata pantai favorit yang ramai dikunjungi saat musim liburan. Selain pantainya yang panjang, bersih, berpasir putih, dan mudah di akses, pantai ini sudah dikelola dengan cukup baik oleh masyarakat setempat sehingga nyaman untuk dikunjungi. Para-para / bale-bale atau apapun itu namanya berdiri rapi di sepanjang pesisir pantai. toilet / kamar mandi baik permanen maupun yang hanya berdindingkan anyaman bamboo pun sudah tersedia banyak di dekat para-para. Di pintu masuk, beberapa penduduk lokal akan menarik tariff masuk sebesar 20.000 permobil atau 10.000 permobil tanpa melihat jumlah penumpang sebagai pengunjung. Sedangkan untuk bale-balenya satu bale-bale akan dipungut biaya sekitar 50.000 – 100.000. yah, cukup murah lah untuk acara piknik keluarga.

cuap-cuap PTT : sekedar bercerita

Cuap-cuap PTT : Sekedar Bercerita

“ derita itu akan menjadi lebih ringan ketika kita membaginya. Sedang kebahagiaan akan menjadi berlipat ketika kita membaginya” –dee,2014-

Kamis, 3 Juli 2014 ( 5 Ramadhan 1435H)
Lamunan itu terpecah ketika segerombolan orang datang membuat kericuhan di halaman tengah puskesmas. Bukan orang mabok, bukan pula orang bertengkar. Seseorang yang nampak tak seperti seseorang yang sakit dikerubuti oleh banyak orang. “dokter, dokter… tolong ini ada yang kebakaran!!!” teriak seseorang dengan cemas padaku. Gw pun bergegas mendekat. Semua orang nampak panik kecuali satu orang, orang yang terkena luka bakar. “aish… ora popo yo… santé.. santé…” kata Om Pi’i, nama yang akhirnya kuketahui belakangan. Ekspresinya jauh dari rasa sakit, malah sebaliknya hanya cengar-cengir bercanda. “wah… ganti kulit iki…”katanya lagi. Gw cuman bengong, di level luka bakar seluas ini dengan bulla dimana-mana, Om Pi’i masih saja bisa tertawa. Ketika seseorang bertanya tentang rasa sakit dirinya menjawab,”hah… sakit’e wez lewat…. Santé to…”katanya lagi. Gw gak terlalu percaya dengan apa yang dikatakannya. Gw suruh omPi’I untuk berdiri di dekat sumur dan sekujur air langsung diguyurkan padanya dan dirinya masih saja tertawa haha-hihi.
Luka bakar derajat II dengan luas sekitar 20% yang mengenai lengan dan tungkai kiri om Pi’I terjadi sekitar 6 jam sebelum dirinya tiba di puskesmas kami. lengan dan tungkainya tersambar api ketika dirinya hendak menyalakan tungku dengan menggunakan lentera yang berisi bensin, di tengah hutan, di salah satu camp para penebang kayu. Om pi’i sendiri adalah seorang pemburu burung (semoga gw gak salah menyebutkan), yang yaah, kesibukan hari-harinya ya di dalam hutan, sehingga untuk bisa sampai di puskesmas butuh waktu berjam-jam lamanya.

su lama ya....

ah... su lama tra tulis di blog ini... *syalalala

Senin, 09 Juni 2014

looking for

wake up in the morning and realize its not true... there're something not in their way and I think its time for me to find my Lord again as soon as possible before 'something' happen.

I'm happy enough, but I know,Its not what i looking for.... *marimencaridanmencari (monday, june 090614)

Sabtu, 07 Juni 2014

zero space


Karena kosong adalah isi, dan isi adalah kosong

numb

when we tired to listen people's say.. close the eyes, close the ears, just feel what ur heart say (070614)

Celebes pu Cerita (10) : Akhir SebuahCerita


Celebes pu Cerita (10) : (Monolog) Akhir Sebuah Cerita

"menyusun mimpi baru” kata afit, di suatu malam dalam sebuah percakapan

Celebes pu Cerita (9) : Makasar - Secuil Cerita

Celebes pu Cerita (9) : Makasar -  Secuil Cerita

H8 : Sabtu, 17 Mei 2014
Om-om kernet sibuk manggilin penumpang yang belum turun dan memberi tahu bahwa bus akan berhenti di pemberhentian terakhir. “peteran peteran… terakhir terakhir…”. Teriak sang kenet. Bus Bintang Marwah yang kami tumpangi sudah nampak sepi, cuman tinggal kami bertiga dan dua penumpang yang masih molor. “huaah.. malesss turun, masih pengen tidooor”kata gw sambik nguleet. baru kali ini naek bus yang comfort banget, tempat duduknya kayak kasur, empuk, bin lebar dan panjang, beneran executive bus banget lah, tidur pun jadi terasa nyaman tanpa goncangan, haha *ndeso. Kami berhenti di tepian jalan peteran dan langsung dikerubungi oleh banyak tukang ojek dan supir taksi, bingung-bingungan mo kemana. Tapi untung sebuah penunjuk jalan mencerahkan kami kemana kami akan melangkah. Sebuah papan bertuliskan, “McD, drive thru 500m” membuat kami sepakat,”sarapan dulu yuk…. Sambil isitrahat, charger hp, bersih2, jernihin pikiran, baru jalan”. Dan ternyata 500m itu gak deket, udah rasa jalan lama tapi koq gak sampe-sampe. “koq gak sampe-sampe sih?dimana sih?gak keliatan?”kata gw mulai meragukan penunjuk jalan. “naek pete-pete aja ya.. “usul gw dan semuanya sepakat. Udah poda males jalan. Semenit naek pete-pete, tibalah kami di McD Alaudin. “yeeeiyy….. McD, akhirrrr nya, setelah nyaris setahun gak makan mcD, yeiy… yieyy”teriak gw girang lantaran di papua emang kagak ada McD. Satu jam lebih kami nongkrong di mcD, santé-sante saja, sambil nikmatin menu mcD breakfast.
dari blog diah : travelingdiah.blogspot.com

Celebes pu Cerita (7) : Palopo - Negerinya Para PHP

Celebes pu Cerita (7) : Palopo - Negeri Para PHP
“negeri ini Kaya. Alamnya, budayanya. Hanya bagiamana kita sebagai generasi muda mau menjaga dan mempertahankannya”

H6 : Kamis,15 Mei 2014
Matahari bersinar terik siang itu ketika kami satu persatu mulai terbangun dari lelapnya tidur. Pukul 09.00 siang waktu Indonesia bagian palopo, dan basecamp GMKI cabang Palopo (rumah kedua kakAnto) yang menjadi tempat kami beristirahat nampak berantakan, semua barang, keril berserakan dimana-mana. Anak-anak masih bermalas-malas untuk bergerak. Dua belas jam bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah perjalanan motor. Energy terkuras, ditambah dg dua hari pendakian membuat Otot-otot seluruh badan menjadi tegang dan terasa nyeri sangat jika disentuh. Sekaleng susu ‘beruang’ bear brand menjadi penyegar pagi itu (eh siang denk). “Jadi, kita mo kemana hari ini?”Tanya gw. “kita makan kapurung dulu, putar kota palopo sebentar, ke sungai jodoh, makan lapak-lapak di rumah aidil , baru lanjut ke Toraja. bagaimana?’kata kakAnto, dan kami pun sepakat. Sebuah mobil avanza kami sewa untuk membawa kami jalan-jalan. Aidil kribo menjadi driver kami, dan pipit pacar aidil,Pipit dan kawan palopo lainnya menjadi guide kami hari itu.

Celebes pu Cerita (8) : Toraja - Kearifan pada Kematian


Celebes pu Cerita (8): Toraja - Tanah para Leluhur 

“Berteriak lantang, aku selamatkan kau
Berteriak lantang, aaaakuu selamaaatttkaaannnn kauuuuu
Beri tanda, aku datang, menjemputmu, menjemputmu
Beri tanda, aku datang, menjemputmu, menjemputmu”
(Sheila On 7, Menyelamatkanmu)

H7 : Jumat,16 Mei 2014
Lagu Sheila on 7, Menyelamatkanmu berputar nyaring dari dalam mobil. 2014, tapi masih ada ternyata mobil yang pake ‘kaset pita’ untuk memutar musiknya, hingga jadilah kami selama perjalanan hanya mendengarkan lagu dari album pertama Sheila on 7 berulang-ulang. Suasana kembali menjadi ceria dengan lagu-lagu Sheila setelah sebelumnya terasa canggung lantaran gw ama diah marah-marah sama kakAnto  gegara anak-anak yang bangun siang dan kami kesiangan. “katanya jam 7?jam 7 wib?oh, jam Indonesia denk…”kata gw ketus ke kakAnto yang menghampiri gw ama diah yang bermuka kecut di beranda basecamp gmki palopo. “iya,sori, sori, ya udah, yuk jalan…”kata kakAnto gak berani banyak bicara ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 siang. Tapi kemarahan itu gak berlangsung lama, gak lucu juga kalo jalan-jalan sambil marah-marah, haha… (*resiko jalan sama cewek2 Taurus, sekali marah, nyruduk beneran :p ). 

Jumat, 06 Juni 2014

Celebes pu Cerita (6): trully Unexpectable Moment I ever Had

Celebes pu Cerita (6): So Unexpected Trip 

“12 hours we spent on motocycle, riding from enrekang to palopo across tana toraja and north toraja, and that’s so un expectable moment I ever had” tutut, 2014
H5 : Rabu,14 Mei 2014
Indonesia itu Indah. Enrekang itu Kaya, dan Latimojong itu Luarbiasa (capeknya). Rasa lapar yang mendera kami padamkan segera ketika pada akhirnya kami tiba di basecamp kami di dsKarangan. Lagi-lagi mie instan menjadi menu andalan yang mudah dan cepat untuk disajikan. Rasa lelah kami lampiaskan dengan bermalas-malasan dalam waktu yang cukup lama di basecamp. Teh hangat dan beberapa biscuit ringan pun langsung lenyap seketika menemani kami beristirahat. Huuffff, akhirnya, setelah dua hari dua malam selesai juga perjalanan latimojong kami. 

Celebes pu Cerita (5) : RanteMario - and finally my 2014's Resolution no.2 is Done!!

Celebes pu Cerita (5) : Rantemario 3478 mdpl Puncak Tertinggi Celebes
,”kalo di rinjani ada yang namanya 7 bukit penyesalan. Kalo ini,namanya Unlimited Bukit Penyesalan… kampreett!!!”
Afit,2014
H4 : Selasa, 13 Mei 2014
Dinginnya Pagi & Arti sebuah Semangka
Suara  gemericik air hujan terdengar lembut jatuh membasahi tenda kami. gerimis tak kunjung berhenti semenjak semalam. Berharap gerimis segera reda sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju pos pos berikutnya. “Woyy… bangun, banguuun…” teriak seseorng dari tenda sebelah sambil mengguncang-guncang tenda kami. “haizzz… siapa sih ini? mengganggu sekali.. masih mengantuk ini..” gerutu gw. udara terasa sangat dingin, lebih dingin disbanding waktu di Karangan. Matras pun tak mampu menahan lembab dan dinginnya tanah pos 5. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi waktu Indonesia bagian pos 5 latimojong dan Diah langsung bangun bergegas mencari kompor berencana untuk membuat ‘nutrigel birthday’nya  yg rencana akan dinyalakan di puncak Rantemario. Rencana yang pada akhirnya batal lantaran kami terkena badai waktu di Puncak. “wohoiii… bangun, banguuun… su siang ini” teriak seorang lagi, kali ini mengguncang-guncang tenda sebelah. Betul adanya, cahaya sudah cukup terang untuk beranjak dan beraktivitas. Satu persatu bangkit dan segera mempersiapkan sarapan paginya, kopi, susu, dan snack ringan menjadi pembuka sebelum sarapan pagi dimulai. Aidil dan Sere mendapat tugas untuk mengambil air di sumber air ditemani Kamal dan gw yang penasaran sejauh apa sumber air di pos 5. Dan ternyata, 500 meter itu, jauh banget. lumayan lah, pemanasan sebelum trekking, dengan medan yang licin, menurun,dan banyak terhalang oleh pepohonan yang su lama tumbang dan tentu saja, lumut dimana mana. Tapi  hal ini menjadi tak ada artinya ketika sudah sampai di sungai yang menjadi sumber air kami. cantik banget aliran sungainya!!! Aliran sungai yang beradu menerobos bebatuan yang licin oleh tebalnya lumut menyeruak diantara lebatnya pepohonan. Udara yang dingin menjadi tak seberapa disbanding dengan dinginnya air sungai yang jernih dan deras menyerupai air terjun kecil lantaran mengalir dari susunan batu bertingkat. “brrrr… gilaaaa, dingin banget!!! ini mah lebih dingin daripada air es di freezer rumah ni”kata gw ketika mencelupkan tangan ke dalam air. aidil ketawa,”ayo… coba mbak masukin tangan selama 5 menniiitt saja, berani gakk??” kata aidil menantang. “ah… ogah. Elo aja dah. Sana gih, coba, ntar kalo tahan 5 menit gw traktir dah”kata gw ngajak taruhan.”ah, mbak aja ya.. 2 menit deh…”tawar Aidil, tapi gak ada satupun yang mau. Masukin tangan sebentar aja udah beku, apalagi mo dua menit. Kami pun membatalkan taruhan, memilih untuk segera membersihkan diri cepat-cepat, sikat gigi,dan mengisi air pada botol-botol bekal. Tapi, meski dingin, air yang diperkirakan bersuhu sekitar -30C ini seger banget buat cuci-cuci muka. Lumayan lah biar muka kusut jadi agak segerannnn *hii, meringis. 
 

Celebes Pu Cerita (4) : Latimojong - Never Ending Nanjak

Celebes pu Cerita (4) : Latimojong - Never Ending Climbing

“tarek nafas dooollloooooo” Awall,2014

H3 : Senin, 12 Mei 2014
Udara dingin desa Karangan menusuk tajam menembus tubuh yang mungil ini *tsah. Dua jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan, dan kantong tidur bahkan tak banyak mengurangi rasa dingin di pagi itu. *brrrh….. hujan turun dengan derasnya selama semalaman makin menambahkan dinginnya udara di desa Karangan. Rasa dingin yang membuat kami menjadi semakin malas beranjak dari kantong tidur masing masing. Gw bangkit, berusaha melawan rasa dingin di badan,menyiapkan menu sarapan yang sama dengan menu sebelumnya,telur, sayur, dan nasi panas. Tak berselang lama, satu persatu kawan lain terbangun, dan bergegas menyiapkan perlengkapan pendakian. Kamal, dan Awall yang menjadi team leader, mengkoordinasikan alat dan perlengkapan yang ada.”bawa pakaian secukupnya aj, barang yang gak perlu ditinggal di sini. yang bawa keril 4 orang saja, yang lainnya free, jadi kalo kecapekan biar bisa gantian.” kata Kamal menjelaskan. empat keril,tiga daypack berisi tiga tenda bermuatan 3-4orang,beberapa sleeping bag, 3 nesting 2 kompor, pakaian dan peralatan pribadi, obat-obatan, dan logistik selama 2 hari pendakian selesai kami siapkan dengan cepat. Selesai menyiapkan peralatan, kami bergegas untuk sarapan. Awall, yang belum lama ini mendaki latimojong, memberikan pengarahan tentang medan yang akan kami tempuh. “target kita hari ini sampe di Pos 5 saja. tapi ya kalo bisa sampe Pos 7, lebih baik lagi. Dari sini ke Pos 2 medannya cenderung gak terlalu mendaki. Di awal nanti sampe pos 1 kita melewati perkebunan2 masyarakat. Dari pos 1 ke pos 2 cenderung menurun karena posisi pos 2 yang cenderung di bawah. Sumber air juga banyak di Pos 1 dan Pos 2, jadi gak usah terlalu khawatir masalah air. dari Pos 2 medan akan terus menanjak, sumber air gak ada di pos 3 dan 4,jadi kita harus ada persediaan air yang cukup dari pos 2. Di Pos 5 deket sumber air, dan kita akan bermalam di sana. Besok pagi, baru kita lanjut untuk summit, dan langsung turun kembali ke Karangan” kata Awall panjang lebar. Yang lainnya menyimak dengan seksama. Dari 11 orang, hanya 3 orang saja yang sudah pernah mendaki Latimojong. “nanti di pos 2, jangan lupa untuk melekatkan rotan di tubuh, boleh dibikin gelang, kalung atau apapun. Udah jadi tradisi pendakian di sini, harus seperti itu” Awall menambahkan. “emang kenapa harus pake rotan?’tanya gw penasaran. Awall gak bisa kasih penjelasan,”yaaah, udah jadi tradisi. Itu pesannya dari masyarakat di sini” jawab Awall. Gw, diah, dan afit saling berpandangan. Hmmm, dimana di situ bumi dipijak disitu langit dijunjung. “ada pantangan tertentu gak untuk ndaki latimojong?”Tanya diah kemudian. Awall tersenyum, menggeleng.”cuman itu saja, harus pake gelang rotan, nti kalo kita liat ada rotan, kita buat di sana. pantangan lain gak ada, yang penting etika di alam aja, seperti biasa.”jawab Awall santai. 
Tepat pukul 08.45 wita kami memulai langkah pendakian kami setelah sebelumnya berdoa dan berteriak untuk kesuksesan pendakian kami. Awal menjadi leadernya dan Kamal menjadi sweepernya. Perkebunan kopi milik masyarakat mendominasi pemandangan sepanjang perjalanan dari basecamp hingga pos 1 Buntu Kaciling. Medannya  pun tak terlalu sulit berupa jalan-jalan setapak batu menembus bukit-bukit kecil penuh pohon kopi, ataupun lahan kebun masyrakat setempat. Karena banyaknya bukit-bukit dan jalan setapak inilah yang kadang membuat pendaki agak sedikit bingung menemukan jalan menuju pos 1, ditambah lagi tak adanya penunjuk jalan menuju ke arah sana. beruntung leader kami Awall yang berada di depan sudah beberapa kali mendaki gunung ini, sehingga tak terlalu sulit baginya untuk mengarahkan kami hingga tiba di Pos 1 satu jam kemudian. 

Pos 1 sendiri, terletak di atas suatu bukit yang masih berada di areal perkebunan kopi. Sebuah gubuk singgah berdiri tak jauh dari Pos 1 menjadi tempat peristirahatan sementara kami. melihat banyak batang rotan bersebaran di sekitar gubuk, Awall langsung berinisiatif untuk membuat gelang rotan untuk dirinya. Kawan lainnya pun mengikuti. Dipotongnya rotan dan dirautnya hingga halus dan diikatkannya pada pergelangan tangan. Adek kecil Rendi nampak asik dengan pisaunya, meraut dan menganyam rotannya agar nampak  berbeda dengan yang lain. “looh, koq bikin di Pos 1?? Katanya bikinnya di pos2?”Tanya gw. “gak papa, bikin di sini juga gak papa koq. Yang penting ada rotan”jawab Awall yang masih sibuk dengan gelang rotannya. “tutut mau dunk dibikinin..”pinta gw pada yang lain.  pisau lipat yang hanya berjumlah tiga digunakan bergantian dengan yang lain. Bocor yang sudah selesai membuat gelang rotannya, mendekat meminta lengan gw untuk dipasangkan gelang rotan buatannya. Gw tersenyum,”aseeekk… dibikinin…. Entar tutut pake dah sampe besok2”kata gw kegirangan. Tambah lagi koleksi gelang di tangan. Bocor hanya diam, sedikit tersenyum. Selama perjalanan, dirinya tak begitu banyak berbicara, tapi sangat dan super membantu sekali. Satu kawan pendaki yang belakangan diketahui abis ditinggal kawin pacarnya. Konon pendakian ini adalah pendakian galaunya. Pendakian untuk menghilangkan kegalauan yang mendera di jiwanya *tsah. *wishU’reOkayBocorBoy^^. Role No.3 : Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit di Dijinjing. Jangan lupa pake Gelang Rotan selama pendakian Latimojong ya kawaaannn.

Tak lama beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2.dari Pos 1 ini medan baru mulai memasuki hutan. Belantara hutan yang cenderung basah karena banyak ditumbuhi lumut. Hal ini pulalah yang membuat suhu di Latimojong lebih dingin dibanding gunung2 yang mungkin lebih tinggi seperti Rinjani ataupun semeru. Bisa dibilang Hutannya Latimojong tu Hutan Hujan Tropis. Jalan setapak yang dilalui cenderung berlumpur dan licin. Kata diah,”tanahnya merah..” tapi menurut gw bukan,”ah, warna coklat koq..” bantah gw.”ini tanahnya merah tut..”.ini lhoo, warnanya coklat. Merah tu kayak gini”tunjuk gw ke jaket gw. perdebatan yang sebenarnya tak penting -_-“. Mungkin yang dimaksud diah adalah tanah merah, tanah lumpur, tanah liat lah ay. Tanah yang subuh untuk dipakai bertani (wooh, that’s why enrekang menjadi daerah perkebunan yang menjadi pemasok utama kebutuhan sayur mayur di Sulawesi selatan). Selain masalah medan yang berlumpur dan licin, pacet menjadi salah satu momok mendaki Latimojong. Pacet, yang berhasil membuat ‘many hole’ di tangan, kaki (waktu dihitung ternyata ada 24titik bekas gigitan). Awalnya gw gak terlalu peduli dengan yang namanya pacet. Cuman ngisep darah doank koq. “oh, noh, isep noh, darah gw banyak” kata gw gak terlalu peduli. Abis ngisep juga nglepas sendiri. Diah yang pake sandal rajin banget nyemprotin hansanitizer ke dorang pu tangan dan kaki karena lumayan efektif mencegah nempelnya si pacet, dan mempercepat lepasnya pacet dai tubuh. Makanya lumanyan gk digigit pacet. Sedangkan gw, beuuh, berdarah dimana-mana bekas pacet tapi tetep masa bodoh. t api, after several time, abis turun gunung barulah efeknya muncul, garuk, garuk, dan menggaruk. Luka bekas gigitan pacet itu tiada ampun gatalnya, gak mau hilang, kalo belum nimbulin koreng *maaaak. Role No.4 : Every Place has their own unique character.kenalin karakter suatu gunung sebelum didaki, dan persiapkan  segalany. Jangan lupa pake sepatu gunug ya kawan, jangan bodo’ kayk gw yg pede pake sandal,haha  Mendekati pos 2,medan mulai menurun, dan terus menurun. Suara aliran air semakin deras terdengar. Yap, Pos 2 terletak tepat disebelah derasnya aliran sungai. Sebuah batuan datar seperti piringan berada sedikit lebih tinggi dari aliran sungai, dengan sebuah tebing batu besar yang menaunginya menjadi satu gambaran dari Pos 2 Sarang Fakfak. Waktu menunjukkan pukul 12.00 wita ketika awall, bocor, yusar,rendi, dan gw menjadi yang pertama tiba di Pos 2. Puas mengabadikan gambar di pos 2, kami pun menyiapkan menu makan siang. Semalam sebelumnya kamal dan kawan lainnya sudah membuat ‘lontong’ bekal pendakian kami sehingga kami hanya perlu memasak lauk dan pelengkapnya saja. salah satu strategi penghematan waktu^^. Satu hal yang lucu adalah menu ikan asin. Baru kali ini naek gunung bawa bekalnya ikan asin. Tapi ternyata orang Sulawesi, khususnya orang palopo yang gw ketahui, mereka doyan dengan yang namanya ikan asin. Padahal, secara nutrisi, gak ada sama sekali, tapi kalo dilogika lagi, menu ikan asin bagus juga untuk pendakian. Baik untuk mengganti elektrolit yang hilang selama pendakian. Kan,natriumnya ikan asin tinggi bangeet.  Hal konyol lainnya adalah ternyata margarine yang kami bawa untuk menggoreng ikan asin tertinggal di basecamp, sehingga terpaksa deh tu si ikan cuman dibakar-bakar saja di atas api. Geli liatnya, dimakan aja bikin gatal di lidah, eh, tapi enak juga yaaa *meringis. Diah yang dari awal sudah bilang,”no.. no… gw gak suka ikaaan!apalagi sarden ato ikan asiin”, terpaksa selalu mendapatkan menu tersendiri, mie rebus, tanpa sarden ataupun ikan asin, disaat yang lainnya begitu menikmati ikan asin bakar yang disantap bersama lontong2an buatan kawan.
       
 
pos II buntu kaciling

berlanjut, langkah kaki mulai berjalan menyusuri kembali jalan setapak menembus lebatnya hutan menuju pos 3 dan pos 4. Jarak antara pos 2 ke pos 3 tidaklah terlalu jauh, hmm, sekitar 800 m – 1 km. hanya saja, medan yang ditempuh adalah tanjakan tanjakan tiada henti. Dari pos 3 ke pos 4 tidaklah jauh berbeda, dengan jarak yang sama sekitar 1 km berupa tanjakan-tanjakan semi berlumpur semi berbatu. gw, yang bukan seorang pendaki cukup merasa ngos-ngosan sejak dari pos 3. Dada berdegup kencang, Keringat menjadi dingin, kombinasi antara kekurangan elektrolit, hipoglikem, dan keracunan kopi (salah sendiri minum kopi). Diah dan Afit yang merupakan pendaki jawa saja mengakui bahwa medan nya ‘lumayan’ bikin kelelahan. Kawan-kawan dari palopo masih cukup bersemangat dalam melangkah. Hanya si Aidil saja yang nampak mulai kelelahan karena membawa beban keril dipunggungnya yang mulai terasa berat. “tareekkk nafass doooolloooooo” teriak Awall yang berada di depan, berhenti melangkah setiap menemukan daerah yang cukup datar untuk beristirahat. Gw yang menyusulnya dibelakang ikutan berhenti, berusaha mengatur nafas. Hooosh, hooosh. Bahkan tanpa bawa beban di punggung pun nafas udah satu-satu. Awall hanya tersenyum, tertawa melihat gw, dan yang lainnya yang nampak kelelahan. “masih semangat?” tanyanya laagi. Gw tersenyum, meski terasa lelah, ini belum seberapa, baru sampe pos 3, jadi harus semangat. “semangat dunkkk!!”dan kami melanjutkan langkah. “Semangkaa… Semangat Kalolo” teriak Awall dan lainnya. Kecepatan langkah kami bersebelas tidak lah jauh berbeda satu sama lain, jika satu dua yang di depan sudah mulai terlalu jauh dari yang dibelakang, mereka akan berhenti, beristirahat sambil menunggu mereka yang tertinggal di belakang. Rendi,adek kecil dan Yusar yang sama-sama paling muda selalu menjadi yang terdepan dalam melangkah, mengikuti langkah kaki sang leader,Awall. “ayo mbak… semangka!!!bgsgsoghr”kata Rendi dengan logat palopo yang sering bercampur dengan bahasa palopo. “adek.. ko bicara apa kah? Pake bahasa Indonesia dunk, tong tra paham ko bicara apa..”kata gw. Bisa dikatakan Rendi termasuk yang paling susah bahasa Indonesia, susah dimengerti dan lebih sering tercampur dengan bahasa daerah yang sering kali membuat gw,diah, dan afit cuman bisa bengong, dan bilang,”hhee?????”penuh tanda Tanya. Bahasa Rendi, yang sering terpeleset-peleset dan menimbulkan tawa buat kami yang asing mendengarnya. Tapi, gak bisa dipungkiri, rendi lah yang paling mantab fisiknya, paling sering bawa keril, dan jarang ngeluh capek. Setiap lagi istirahat, suka ngeluarin joke, joke yang bikin semua orang tertawa. Kata rendi,”harus bikin lucu lucu to… biar tak capek” dengan logat nya yang lagi-lagi membuat kami tertawa. Mantab betul dah.Role no.5 : life is bout balance, take an enough breath and lets walk again. Tarek Nafas Doolllooooo…Mencapai pos 4 pada pukul 15.00, 1 jam lebih cepat dari target awal, membuat kami menjadi lebih santai dalam melangkah. Ditambah lagi lantaran rasa lelah sudah cukup mendera beberapa orang yang membawa keril besar. Aidil lagi-lagi menjadi yang terakhir tiba di Pos istirahat. Sudah bawa keril paling berat, setiap sampai di Pos, selalu mendapat hukuman untuk scot jump dan push up masing2 10 hitungan. “emang kenapa sih si aidil kribo dan sere selalu dihukum?’tanya gw, memperhatikan Kamal dan Awal yang malah menikmati dalam menghukum kedua orang itu yang masuk dalam anggota KPA Gerhana Sawerigading. Gara-gara mereka lupa ambil slayer gerhana tadi waktu di awal pendakian..”kata awal menjelaskan. gw manggut-manggut. Gak paham sebenarnya. Anak-anak komunitas pecinta alam ternyata punya aturan sendiri dalam pendakian. Kata diah menjelaskn,”jadi mereka tu lagi dalam pendakian ekspedisi, karena masih anggota baru, jadi setiap naik gunung harus ambil slayer anggota untuk menaikkan level di komunitas. Begitu. Ada juga yang dipake sebagai syarat sah menjadi anggota baru”. Gw cuman manggut-manggut, ribet dah jadi anggota KPA, ada senioritas yunioritas, ada hukuman, ada aturan, gak bebas kayaknya. Eh, tapi mereka jadi punya dasar ilmu pendakian *bolehboleh.
“ok, kita lanjut lagi ya…”ajak Awall. Semuanya pun bangkit dari istirahatnya. “Semangkaa????”teriak Awall, dan yang lain menjawab,”Semangat Kalolo…” berkali-kali si Awall atau yang lainnya berteriak,Semangka!!!  yang lainnya jawab : Semangat Kalolo. awal yang gw gak terlalu peduli mereka bicara apa,gw jadi penasaran.”Awall, semangat kalolo apaan sih?” Tanya gw. “kalolo tu bahasa paloponya pemuda. Anak laki-laki. Makanya, Semangka!!!!semangat Kalolo, semangat kau pemuda!!” kata Awall sambil tersenyum. Gw baru paham kalolo aartinya anak laki-laki to. “jadi, kalo anak perempuan apa?”Tanya gw lagi. “anak dara…”jawab Awall singkat. Gw langsung bongkar tertawa,”bwahaha.. apa? Anak dara? Burung dara kaleee…haha.lucu banget sih”,kata gw. “Semangka!!! Semangat kalolo, semangat ko nak Dara…”kata Awall lagi. Gw cuman tertawa, sekali lagi tertawa, aneh-aneh saja ni bahasa palopo. Gw pun ikutan berteriak,”diah.. Semangka!!!semangat ko nak dara…” . kami pun melanjutkan perjalanan. Dan setiap kawan-kawannya mulai nampak lelah, Awall hanya berteriak,”Semangka???” dan selalu kami jawab dengan lantang,”Semangat Kaloloooo…” *such a nice yell
Jalur dari Pos 4 menuju Pos 5 tak jauh berbeda dengan Pos 2-3 dan Pos3-4,bahkan cenderung lebih tak terlalu melelahkan karena beberapa kali dapet ‘jalur bonus’ karena jalur yang cenderung datar. Jarak antara pos 4 hingga pos 5 pun tak terlalu jauh, sekitar 1km jauh jaraknya. Tepat pukul 17.00 sore kami tiba di Pos 5 Soloh Tama, dengan ketinggian 2625mdpl. “wa…akhirnya…sampe juga di Pos 5. Gilaaa… trekkingnya gilaaa…kampret, kampret”kata gw berteriak sambil meluk pohon dengan papan bertuliskan “Pos 5 Soloh Tama”.  Tak lama berselang, afit, diah dan kamal menjadi yang terakhir datang. tak lama berdiskusi, Kamal dan Awall memutuskan untuk menghentikan perjalanan sampai di Pos 5. “ok… sampe sini saja ya… kita ngCamp, terus besok turun…haha”kata Awall malah bercanda. Mengingat hari yang sudah senja, angin yang mulai kencang, dan kemungkinan turun hujan,dan badai dan fisik kawan2 yang sudah jauh menurun,  disepakati tim untuk berTenda di Pos 5, perjalanan menuju Pos 6 dan 7 dirasa tidak memungkinkan untuk dilanjutkan hari itu, melainkan  keesokan harinya. Angin berhembus dengan kencangnya ditambah suhu udara di Pos 5 yang sangat dingin membuat kami benar-benar berat untuk melakukan aktivitas. Kamal dan seorang kawan bergegas mengambil air di sumber mata air yang berjarak sekitar 500 meter dari area perkemahan sebelum matahari terbenam. For your information aja, Pos 5 sendiri berupa satu lokasi datar yang luas yang dikelilingi banyak pohon tinggi ramping menjulang ke atas. Tanahnya tanah lumut yang basah dan lembab. Sumber mata airnya lumayan cukup jauh dari lokasi Pos, yaitu sekitar 500 meter, 20 menit berjalan kaki menurun ke bawah ke arah timur laut.
Angin semakin kencang, dan cahaya semakin temaram karena malam, dan kami pun lekas mendirikan tenda, tiga tenda untuk 11 anak manusia. gw bertiga dengan diah, afit, satu tenda berisi kamal,awal,bocor,dan k’Anto, dan satu tenda lainnya dihuni aidil,sere,yusar,dan adek kecil rendi. Makan malam kami segerakan untuk bisa mendapat kehangatan dalam tenda, dan satu persatu pun beranjak  dari dunia nyata, ke dalam dunia mimpinya masing-masing.
Meski satu persatu kawan cepat terkapar dan terpejam, malam itu, gw, diah, afit memilih menghabiskan malam dengan bercerita. Saling bercerita tentang kehidupan yang sudah kami jalani, kehidupan gw, kehidupan afit, ataupun kehidupan diah. Kehidupan kami bertiga yang  sangat berbeda satu sama lainnya. Dan lagi-lagi, masa lalu, menjadi satu pokok pembicaraan yang tak pernah luput untuk dibahas (masa laluuuu biarlah masa laluuu, jangan kau ungkit, jangan ingatkan akuuuu * lets sing, dangdut, ) we have three different character, we have three different kind of life, and we have our own perspective bout life, but here we’re.. we still happy, and enjoy with this (270514 00.17)
pos 5