Selasa, 04 Maret 2014

Cerita PTT : Kwarja - anak Ayam yang kehilangan Induknya


Cerita PTT : Kwarja  – Ayam yang Kehilangan Induknya

Minggu, 21 Februari 2014
Kembali bertugas untuk melakukan pelayanan kesehatan di kampung Kwarja. Dan Meski kami sudah tidak  ada ikatan kontrak dari dinkes kabupaten sebagai ‘tim flying care’ di kampung kwarja, kami tetap melakukan pelayanan di kampung tersebut sebagai bentuk pelayanan puskesmas Taja yang mem’cover’ seluruh wilayah distrik Yapsi, termasuk di dalamnya kampung Kwarja. Butuh waktu sekitar 2 ½ - 3 jam untuk mencapai lokasi yang kami tuju, lebih singkat disbanding waktu pertama kali kami masuk ke kampung ini, 6 jam perjalanan. Kwarja yang terletak di bagian timur laut distrik Yapsi merupakan salah satu kampung penduduk asli papua yang ada di distrik Yapsi, selain kampung Tabeyan, kampung Bundru, dan kampung Rifi. Masyarakat kwarja mempunyai bahasa suku sendiri, bahasa Kwarja yang hanya dimengerti ya oleh orang kwarja. Kata salamnya kwarja adalah,”amsan..”..

Cerita kisah tentang kwarja dimulai seperti ini. Pada jaman dahulu, masyarakat kwarja, sama seperti masyarakat papua pada umumnya hidup dari berburu dan meramu. Mulanya masyarakat Kwarja tinggal di ‘Kampung Tua’ sekitar 11 km dari kampung kwarja yang ada sekarang. Disana, mereka biasa hidup dengan berburu rusa dan hewan-hewan hutan lainnya, dan memakan makanan yang ada di hutan, betatas, buah2 hutan, d an sagu. Kampung tua sebenarnya bukan benar-benar kampung, hanya beberapa kelompok orang yang tinggal bersama di dalam hutan dengan menjadikan kayu-kayu yang disusun dan diberi atap jerami tanpa dinding sebagai tempat berteduh dan beristirahat.  Waktu gw Tanya ke paman,”jadi, mereka dihutan cuman pake gituan paman?” kata paman,”iyah…kalo hujan, angin, ya basah, malam, ya gelap2, gak ada cahaya, dimana-mana hutan. Tapi ya buktinya mereka hidup hidup aja”. Kata paman bercerita sambil asik menghisap rokok anggur kupunya.

 Sejak akhir tahun 1990an, misionaris masuk di kampung kwarja, mengenalkan mereka tentang agama, mengajarkan tentang bahasa, dan mengajarkan mereka tentang baca-tulis. Seorang misionaris dari jerman dengan seorang anak dan seorang istri pernah tinggal di kampung kwarja bersama masyarakat di sana.setelah itu, seorang misionaris dari timur (orang nusa tenggara, bapak Benny) tinggal dan mengajar di kampung ini selama kurang lebih 3 tahun. Sekitar tahun 2005an, untuk mengakses kampung Kwarja bukanlah perkara yang mudah. Kata paman Padwa,”sa salut dengan Bapa Benny. Dorang sebulan sekali, jalan kaki dari SP1 sampe Kwarja. Bayangkan, berangkat dari sebelum matahari terbenam dan tiba di kwarja tengah malam. Berjalan kaki sendirian, sambil menggotong persediaan makanan secukupnya untuk sebulan. Beras satu karung pun dorang panggul sendiri. di Kwarja, sambil mengajarkan agama, beliau ajarkan juga anak-anak cara membaca, mengenal angka dan huruf. Sesekali beliau bagi berasnya, mengajarkan anak kampung makan nasi. Jika persediaan beras beliau menipis, beliau keluar SP belanja lagi, kemudian masuk ke Kwarja kembali.” Cerita paman Padwa yang mengenal bapak Benny ketika dirinya pertama kali ditugaskan di kampung Kwarja. Dari sinilah masyarakat kwarja mulai terbuka dengan perabadaban. Pemerintah masuk membangunkan perkampungan Kwarja, membangunkan mereka rumah papan, mengajarkan tentang bercocok tanam. Masyarakat yang banyak tinggal di Kampung Tua mulai berpindah ke rumah permanen di perkampungan Kwarja. Mereka belajar tentang cara bermasyarakat, dan menata pemerintahan kampung secara sederhana. Fasilitas-fasilitas dibangun, seperti balai desa, tempat pelayanan kesehatan (pustu), dan rumah bujang (khusus untuk lelaki-lelaki bujang memang tidak boleh tinggal di kampung, mereka tinggal di rumah bujang, diajarkan cara berburu, pengobatan tradisional, cara berperang, dan banyak hal tentang adat.), Bahkan sekitar 2 tahun yang lalu listrik  tenaga diesel sudah masuk(tapi lebih banyak padam nya), panel tenaga surya terpasang di setiap rumah (tapi banyak yang hilang, rusak, tak terpakai, atau dijual), dan drum drum penampung air dibagi di setiap kepala keluarga. Selama beberapa tahun, masyarakat Kwarja hidup dengan sejahtera dan damai, dibawah pimpinan bapa kepala kampung Kwarja (yang sekarang kami menyebutnya sebagai ‘bapak mantan’). Kesejahteraan masyarakat semakin baik ketika ‘perusahaan kayu’ masuk ke kampung kwarja (boleh dibilang perusahaan penebangan kayu illegal). Jalan menuju kampung kwarja  terus diperbaiki untuk mempermudah keluar masuknya truk truk pengangkut kayu, masyarakat mempunyai pendapatan sebagai pekerja kayu dan mendapat ‘uang adat’ dari  hutan yang ditebang. Kayu kayu hutan terus ditebang dan masyarakat semakin sejahtera. Entah itu hal baik atau bukan, yang pasti ketika kayu sudah habis, dan perusahaan kayu meninggalkan kwarja, masyarakat ya kkembali ke keadaan semula, perlahan, ketika tidak ada makanan masyarakat kembali ke kampung tua karena di kampung tua, mereka lebih mudah mendapatkan makanannya. Keadaan ini semakin diperparah ketika bapak ‘mantan’ menderita ‘sakit’ yang membuatnya jadi ‘setengah gila’, kata orang orang sih ‘dibikin orang’ tapi entahlah. Pada intinya bapak ‘mantan’ yang menjadi tetua, ondoafi, dan seorang panutan bagi masyarakatnya turun jabatan dari kepala kampung yang sudah dipegangnya bertahun-tahun dan kemudian digantikan oleh Kepala kampung yang baru sekarang Sulaiman Kause. Sulaiman Klause sendiri sebenarnya putra asli kwarja. Namun sejak awal kepemimpinannya banyak yang mengeluh kampung kwarja tidak menjadi lebih baik. Kepala kampung lebih sering berada di kota disbanding berada di kampung kwarja. Uang dana pengembangan kampung pun dipertanyakan keberadaannya. Cerita paman lagi,” kepala kampung yang sekarang tu hobinya keluar masuk kafe di kota, ngabisin duit buat minum minum. Kaget mungkin tiba-tiba pegang uang gede”.  Masyarakat pun semakin bingung. Mau bertahan di kampung kwarja, tapi di sana makan sulit, jauh dari sagu, berburu pun susah karena hutan berkurang.  kata seorang mama bercerita waktu kami melakukan pelayanan di sana,”kampung su trada orang, dokter. Semua banyak yang kembali ke kampung tua, ikut bapak mantan. Di sana kitong lebih mudah dapat sagu jadi.” memang benar adanya, rumah-rumah papan di kampung kwarja banyak yang kosong, rumput-rumput liar dibiarkan tumbuh tinggi menutupi halaman-halaman rumah. Padahal., dahulu kampung kwarja dibawah pimpinan bapak mantan rapid an bersih. Mama mama yang dulu bertani coklat dan bisa menjual coklat pada pemborong dalam jumlah besar sekarang membiarkan coklat-coklatnya mongering dan membusuk, kata seorang bapak,”dulu kitong kalo panen coklat bisa banyak sekali. Di sini mama-mama memang diajarkan cara tanam dan pelihara coklat, hasilnya bagus, dan ada yang beli. Sekarang su trada yang datang ambil kitong pu coklat. Karena susah makan, dorang pigi berpencar cari makan”. Tragis sebenarnya, kwarja dan masyarakatnya yang sedang berada di ujung tanduk kehidupan. Mereka kembali lagi ke hidup mereka dahulu, makan tidur berburu di hutan setiap hari. “ sudah 2014, dan mereka memilih untuk kembali ke kehidupan mereka dahulu, hidup di hutan lagi, hidup hanya untuk berburu, totok sagu, makan, tidur, begitu setiap hari.”kata paman menggelengkan kepala.  Paman yang sudah mengenal kwarja sejak lebih dari 8 tahun yang lalu merasa kecewa sekaligus sedih. Kwarja gagal ditangan putra kampungnya sendiri.

Langit cerah siang itu di kampung Kwarja. angin berhembus kencang membawa hawa ngantuk pada badan pegal dan perut kenyang kami berlima. Kami tengah terlelap kala empat mama dengan beberapa anak datang berkunjung. Menyimak cerita mereka panjang lebar tentang kampung kwarja.  Seorang mama yang tengah menghisap rokok anggur kupu yang kami bawa (sebagai bahan kontak), bercerita,”dorang su lama kasih tinggal kitong pu kampung. Di sini kitong trada makan jadi. dorang su berpencar cari makan sendiri sendiri. ada juga yang su pindah di jembatan dua (letaknya tidak jauh dari SPV,lebih dekat dg kota)”. huff… gw cuman menghela nafas panjang. Akan jadi apa kampung kwarja nanti. Siang itu kami memutuskan untuk kembali ke SP. Menginap bukan menjadi pilihan, dan ke kampung tua pun juga bukan jadi pilihan karena masyarakat sudah berpencar pencar. Setelah meninggalkan beberapa bahan kontak, bahan makanan untuk dimasak, kami pulang melanjutkan perjalanan.
Perjalanan singkat ke Kwarja yang penuh perenungan…
mama mama yang pi meninggalkan pustu


kampung kwarja yang mulai ditinggalkan

ditengah jalan kami dihadang oleh seorang lelaki bertelanjang dada berkulit hitam membawa parang besar, sebuah busur dan beberapa anak panah. Kami berhenti, gw kaget, bingung, sekaligus takut. Gila aj, di tengah-tengah hutan, tiba-tiba muncul bawa parang besar. tapi ternyata,lala olala, dirinya adalah seorang masyarakat taja, yang mendirikan kamp disatu sudut hutan ditepi jalan yang kami lewati.  Dirinya pun laangsung dengan akrab bercengkrama dengan kami di tepi jalan, saat hujan deras tiba-tiba mengguyur. “woi…. Alam! Ko mengerti sedikit kah… kitong lagi di jalan ini, jangan hujan dulu… bn%$#U(“ maki pace sama langit gara-gara hujan tiba-tiba turun deras.”ini pasti kerjaan dorang dari SPV dorong awan ke sini ni. Kitong jadi basah semua.. ayo mari kitong berteduh dulu” ajak dirinya dan kami semua pun langsung berteduh dibawah pohon. “kalian dari kampung kah?ah..bodok kalian. Kalian tadi tra bilang dulu jadi sama kitong, kalo kitong tau su kitong hadang waktu ko berangkat, biar tra usah kasih pelayanan jauh-jauh di kampung. Su trada orang mo di sana, mending ko kasih kitong obat di sini, ato kalo tidak ko pi kampung tua sekalian to..” pace mengoceh panjang lebar dalam logat papua.  orang di kampung su bubar semua. Sa sama pace ??? bikin camp di sana tadi yang ko liat ada camp pake kelambu, itu sudah. Kampung su kosong. Sebagian ikut bapak mantan di kampung tua. Kwarja su macam Ayam kehilangan Induknya sudah, koccara kacir bubar cari makan sendiri sendiri karena su tra punya pemimpin lagi. Bingung mo ikut siapa, bapa mantan kah, bapa kepala kampung kah. Pemerintah su tra peduli juga sama kitong. rencananya bapa kepala kampung mo kasih pindah kampung kwarja di jembatan dua sana. Kitong mo bikin kampung di sana, cari makan gampang ke kota lebih dekat. sa ini juga mo pindah ke sana, tapi tunggu bapak kepala kampung yang juga sa pu adek bikinkan sa rumah seng. Cukup sudah derita saya bertahun-tahun hidup tak pasti dan menderita tinggal di gubuk.”kata pace malah curhat sana sini.  gw cuman mengangguk menyimak. Mengamati pace yang yang nampak lepas pergi berkebun / dari hutan. Dalam keranjang yang menggantung di punggungnya gw liat ada anakan pohon sagu, beberapa batang tebu, dan beberapa betatas. “ko bawa apa kah? Anakan sagu? Besok sa bawakan sudah anakan sagu dari sentani” kata paman Padwa pada pace menjanjikan anakan sagu untuk ditanam. Tiba-tiba pikiran gw melayang, anakan sagu yang ditanam sekarang baru bisa ditebang dan ditotok-remas diambil sagunya setelah 8-10 tahun. Butuh waktu yang lama untuk mendapatkan sagunya. Huff… entah, gw harus berkomentar apa.  Kadang gw berpikir, apa mereka mo begini terus, hidup dari muda sampe tua cuman hidup untuk cari makan? Anak-anak kwarja yang menurut gw bisa lebih maju dari sekarang., mentok sampe di sini. belum pernah ada guru yang masuk ke Kwarja. Ini 2014 pak! Tapi masih ada yang belum tau baca tulis? HALO YANG DILUAR SANA, DI SINI ADA YANG BELUM TAU APA itu HURUF DAN ANGKA!!!! Sometimes its too pathetic. Sudah beberapa kali paman Padwa meminta untuk diberikan satu guru untuk mengajarkan anak-anak ini baca tulis , tapi apa kenyataannya? Sudah 8 tahun paman mengenal Kwarja tapi belum pernah ada satupun guru di sini. gw jadi inget Andi Nisab dana anak-anak kwarja lainnya. senyum Andi  yang selalu gw rindukan. akankah senyum itu akan selalu mengembang di bibirnya??entahlah.



“mereka masih punya masih depan. Apa kita mo diam saja membiarkan masa depan mereka suram?”

waktu motor paman padwa jatuh di jembatan yang putus
tanah yang amblas karena hujan terus mengguyur


 

waktu ketemu pace orang kwarja yang cerita panjang lebar sambil curhat sambil ngunyah pinang
 


Tidak ada komentar: