Selasa, 01 Desember 2015

Bekpekkoper Karjaw : day2 – Pelabuhan LagonBajak, Hutan Bakau, pantai Anora (again)



Bekpekkoper Karjaw : day2Pelabuhan LagonBajak, Hutan Bakau, pantai Anora (again)
Di hari kedua, pagi pagi buta kami dibangunkan pak Aris untuk melihat sunrise di satu sisi bagian lain dari kemujan. (berat banget rasanya harus bangun pagi2 buta. Dinginnya bikin pengen tarik selimut rapat2). Tempat sunrisenya gak jauh jauh banget si, sekitar  2km dari rumah pak Aris. Sayangnya, kala itu cuaca sedang sedikit mendung, sehingga, meski udah berdingin dingin kena angin pagi, kami harus cukup puas melihat sunrise tanpa bisa mengabadikannya dengan cukup baik dalam kamera. *alizwelll...
ngSettingin kamera



kapal barang di pelabuhan lagoon bajak

begaya duyuuu
Pagi harinya, setelah menyantap menu sarapan tahu oseng, cumi saos mie, dan cumi goreng, kami berdua (kali ini tanpa pak Aris) dengan motor matic pakAris mulai mengeskplore pantai2 dan apapun yang ada di  Kemujan. dan pantai pertama yang kami singgahi adalah pantai Batu Putih. Hanya berjarak sekitar 4 km dari rumah pak Aris. Pantai Batu Putih sendiri letaknya tersembunyi, gak ada petunjuk arah, dan berada di balik hutan yang gak jelas. Waktu itu kami hanya diberi ancer2 masuk pantai dari gang sebelah sekolah Mtsn Kemujan. Hanya masuk sekitar 100 meter, melewati jalan tanah disela-sela pepohonan yang tinggi (kalo gak salah hutan pohon jati deh), nah, sampe di ujung hutan, taroh motor, truz trekking deh turun ke bawah untuk bisa sampai di pantai Batu Putih. Daaan,waktu nemu tu pantai, eurekaaa, seneng banget rasanya. Serasa pantai milik pribadi. Dengan bibir pantai yang panjang, pasir putih, dan lautan yang dangkal. Waa, suka saya ni. 
 
Menu sarapan pagi, yang sekaligus bekal untuk siang

nglewatin bandara menuju pantai batu putih
trek dari jalan besar masuk menuju akses pantai
bawa pelampung krn takut tenggelam
north side
south side
 Puas berenang, sunbathing, tiduran, dan makan siang di Batu Putih, kami berpindah menuju pantai lainya yang berada di sekitar Kemujan, Pantai Batu Lawang.
Arahnya masih sekitar putar2 Kemujan. Dari Pelabuhan LegonBajak masih ke utara. Kami sendiri hanya mengandalkan petunjuk arah yang ada. Lurus, lurus hingga masuk ke dalam hutan. Udah jelas juga padahal petunjuk arahnya. Kami pun rasa bener2 ngikutin petunjuk yg ada. Tapi koq makin lama makin sepi ya?makin surem, dan jalan yang ditapaki semakin gak jelas. Gak bisa dibedakan mana jalan, mana hutan. Ato jalan gak jelas di tengah hutan. Tapi kita tetep aja maen trabas, udah, jalan, jalan aja. Berharapnya dibalik gak jelasnya jalan ada secercah pasir putih dan hamparan lautan biru. Tapi jalan makin gak keruan. Ada tulisan ‘’entrance’ dan loket ‘Tanjong tracking advanture’, tapi juga gak ada tanda-tanda kehidupan. ‘ah, mungkin karena bukan musim liburan makanya sepi’. Kami pun mengikuti tulisan entrance dan tetap melajukan motor, hingga tiba tiba suara ‘kemresek’ dari arah rimbunan pohon terdengar, ‘srsrkkk’, tiba2 seokor ‘soa-soa’ melintas didepan kami. Sontak lah kami terkejut. Gw jadi panik, tapi sok2 cool, diah pun demikian. Tapi jalanan yang ada di depan semakin menambah rasa tak nyaman kami. Jalan semakin sempit, semakin dipadati akar-akar yg menjalari jalan setapak membuat motor sulit untuk melintas. Rimbunnya pepohonan semakin membuat ‘gelap’ suasana.”Di, koq feeling gw gak enak ya?? Gimana kalo kita balik aja... bau2 nya agk gak jelas ni jalan”. Kata gw ke diah pada akhirnya. Diah ternyata mengamini,”abiz tu komodo mini muncul, perasaan gw jadi makin gak enak ni juga ni”. Tiba2 jantung gw udah berdetak cepat gak jelas, tiba2 aja kringet dingin. Ini ni, yang cewek biasa andelin kalo lagi traveling sendiri. ‘pake Feeling’. Kalo feeling udah berkata gak enak, waktunya mengubah suatu keputusan, dg cepat harus menetapkan keputusan yang lain.
  
medan menuju entah kemana
loket yg tak berpenghuni
masuk??
 Kami pun memutuskan untuk keluar dari hutan-hutan gak jelas. Sialnya, waktu udah sampe padang savana berpasir, motor yang kami kendarain malah kandas di pasir pasir halus. Ban motor tenggelam dalam pasir dan gak bisa dipake jalan.”bentar Di, gw turun. Gas pol Di, gas poll”. Kata gw ke Diah yang berusaha mengeluarkan ban motor dengan memberikan gas yang cukup kuat. Semakin di gas, si ban malah semakin tenggelam dalam benaman pasir. ”bentar Di, bentar, gw foto dulu...”. kata gw ke diah, sambil nahan ketawa. Lucu aja. ”set dah, masih sempet2nya foto... panas ni” kata diah. Emang waktu itu panasnya pol. Gimana kagak. Udah hampir 6 bulan kagak ujan. Pas jam 12 siang, pas di pasir pasir lagi. Panasnya dari ujung ke ujung. Tapi masih aja sempet cekikikan gak jelas. Motor udah di gas berkali kali, tapi masih aja kandas. Udah dicoba dibantu dorong dari belakang (ndorongnya sambil cekikikan si, energinya gak maksimal) tetep aja gak mau ngangkat.”sini, coba gw yang naikin”. Gw gantiian di atas motor, mencoba sambil mengangkat motor sambil ngeGas kuat (tetep sambil cekikikan), hingga akhirnya dengan bantuan tenaga berdaya 7 ekor kuda dari tangan diah, motor pun keangkat.. fyuuh, akhirnyaaa. Setelah kaki berpanas-panas dalam bekaman pasir, fyuuh, bebas juga.
berusaha mengangkat ban yang kandas
 

menghibur diri dengan berpose di depan plang yg entah apa kemana
Jalanan kampung masih nampak sepi. Bener-bener kayak kota mati. Siang siang bolong mungki n emang enaknya ngadem ngadem di kamar. Gak kayak kami berdua yang malah cekikikan ditengah jalan sambil ngitemin muka.
Selepas keluar dari kepanikan,dan ketidakjelasan pantai yang gak jelas, kami memutuskan untuk menuju objek lain. Sebenernya ada banyak pantai di kemujan dan sekitarnya. Tiap belokan, pasti ada jalan ke arah pantai. Tapi kami tak bergeming. Tujuan selanjutnya adalah Hutan Mangrove. Dari daerah Mrican Kemojan ke arah Karimun, melewati Bandara. Sebuah Hutan mangrove yang nampak sunyi dan sepi. Huum,  mungkin karena aksesnya yang jauh dari karimun kota, dan ditambah lagi, bukan bulannya dan musimnya liburan kali ya.
lets save our mangrove

pintu masuk taman hutan bakau
peta
 untuk bisa memasuki kawasan hutan yang memiliki luas sekitar 10 hektar ini, kami hanya perlu mengeluarkan Rp.5000 perorang sebagai tiket masuknya (murah laah). Dari pintu masuk, kami berjalan menyusuri susunan papan kayu yang sengaja dibuat sebagai jalanan diantara rimbunan hutan bakau menju bagian pantai pantai. Meski hanya berjalan sekitar 1 km menuju pantai ( total trekking berputar adalah sekitar 2km an), rasa tetep aja jauh. Lebih kerasa jauh karena cuman berdua dan diantara hutan bakau yang membuat suasana semakin sepi. suara burung dan hewan hewan entah apa yang muncul diantara Suara langkah kaki kami  yang timbul karena beradu dengan papan kayu tempat kami berpijak entah kenapa membawa suasana menjadi sedikit ‘ ‘suram’. Hingga tiba-tiba kami berbalik ke belakang karena sama-sama ‘merasa’ mendengar ada langkah kaki di belakang kami.”Di....??” kata gw ketika kami tidak menemukan siapapun di belakang kami. Dan entah kenapa ketika mata kami beradu, kami cuman tertawa, dan tertawa. Meski sebenernya tak ada yang lucu, dan kami hanya tertawa untuk menutupi rasa takut kami. Hingga kejadian serupa terjadi beberapa kali, kami berusaha mengabaikannya. Pura –pura sok cool meski sebenarnya ada banyak rasa takut diantara kami berdua.”abaikan abaikan abaikan...”.

no vandalisme, please
track hutan bakau yg rimbun


dekat bagian pantai
menara pandang
informasi satwa hutan bakau
fall a sleep
pemandangan pantai dari menara pandang



 Puas menghabiskan waktu di  hutan mangrove. Merasakan semilirnya angin dari menara pandang (yang punya ketinggian mencapai 30 meter? Dan hanya terbuat dari kayu??), kami melanjutkan perjalanan menuju pantai anora. Sekali lagi, pantai anora...

petunjuk arah menuju pantai anora
 Hm, dan memang pantai anora adalah favorit kami. Satu pantai dengan view yang lengkap, pasir putih, bukit,dan lautan dangkal yang biru jernih. Sukaaaa. Kami pun lantas memutuskan untuk kembali snorkling di bagian barat laut dari pantai dan kali ini berani menuju bagian yang dalam tanpa pelampung. Beeuh, sensasinya bisa snorkling bebas, seru. Cuaca mendukung, angin berhembus lembut dan lautan yang tenang tanpa gelombang. Benar-benar bisa menikmati snorkling yang punya  view karang beraneka bentuk, dan ikan mungil yang berwarna warni. Banyak eel fish juga (belut moray nama lainnya kayaknya).  Belut moray yang bikin diah syok karena kepalanya yang jenong dan bentuknya yang panjang kayak ular. Hal yang bikin diah tiba tiba ragu untuk snorkling ke arah yang semakin dalam. Ok, sekali lagi, cewek pake feeling. Dan feeling gw mengatakan diah udah gak bisa snorkling lagi lebih lama lebih jauh hingga kami pun memutuskan untuk menyudahi snorkling kami. Beranjak dari bagian barat laut menuju bagian tenggara dimana pasir pantai menjorok hingga tengah lautan dengan sedikit genangan air yang membuat kami memilih menikmatinya dengan tidur tiduran setengah basah bersama dua bocah kecil( yang entah kenapa) suka berada di dekat kami ikut berbagi cerita bersenda gurau bersama.  Hingga senja tiba memanggil, mengajak kami untuk beranjak pulang
 
matahari senja
malam hari pun menjadi tempat kami melepaskan rasa lelah. Berleyeh2 di hammock beranda rumah, dengan secangkir teh panas untuk menghangatkan badan (padahal udah panas ni cuaca). Hingga jam makan malam tiba, kami pun menyantap habis menu kepiting saos pedas manis yang meski cuman seharga Rp15.000 sekantongnya (sekilo) (dibeli pagi harinya diseorang nelayan, dan kemudian dimasak sama ibuk), jujur,klenger makan berdua, sampe mabok sampe capek mecah cangkangnya. Si diah si enak, tiap gak bisa mecahin cangkang, gw yang gigitin. Gw yang mecahin, diah yang makan dagingnya. Kurang romantis apa coba ni gw ama diah ^^’’

Tidak ada komentar: