Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

taja


mereka memberikan kehangatan kala dingin menyergap
mereka memberikan tawa ketika air mata tak mampu dibendung
mereka memberikan kesejukan ketika amarah begitu menggebu
dan mereka memberikan kenangan, yang entahlah, mungkin tak bisa kudapat di tempat lain..

Thx Taja, and thanx for all of memory ^^

Jumat, 31 Juli 2015

Diving with Nemo : Find a New Pleasure



Diving with Nemo : Find  a New Pleasure
*catatan harian 2 Juni 2015
Kenapa menyelam?? karena itu masuk dalam salah satu bucket list hidup gw. salah satu hal yang harus gw lakuin. Impian gw. adrenalin gw. gw gak bisa renang, gw takut tenggelam, gw takut air, gw takut kedalaman, gw takut kesunyian, gw takut kegelapan, dan gw takut mati. Tapi gw pengen belajar menyelam.


Cerita Kerinci : bukan Akhir Sebuah Cerita



Aku merindukan langit yang cerah, awan yang beregerak rendah, dan sepoi angin yang melenakan. aku merindukan malam yang bertaburan bintang, purnama yang terang dari kejauhan, dan tenda tenda yang bergoyang oleh badai di suatu malam. aku merindukan banyak hal bersama mereka, berbagi cerita dan canda.  Berbagi pertengkaran yang mungkin tak perlu dilakukan. Aku merindukan masa dimana kebersamaan adalah cinta,  dan cinta adalah kebersamaan...
Aku merindukan mereka, yang hanya dengan mengingatnya saja, jemariku bisa berjam jam menari menuliskan segala kisah tentang kami semua.
Aku merindu, dan aku tau, ini bukanlah akhir dari sebuah cerita.
(july, 31th 2015 14.25)

Selasa, 30 Juni 2015

Cerita PTT : masih sekedar Bercuap



Cerita PTT : masih sekedar Bercuap

KDRT
Minggu pagi di rudin puskesmas. Baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah ketika seorang nona datang ke rumah. “dokter bisa tolong sa pu mama kah… ?? darah tra mau berhenti dari dong pu kepala”kata nona itu. Gw kenal nona ini. nona wamena yang sering antar ‘dong pu masyarakat’ buat berobat sambil jadi ‘translator’ beberapa mama-mama yang masih sulit berbahasa Indonesia. Kali ini,dirinya datang membawa seorang mama yang ternyata mama nya sendiri. darah terlihat membasahi kaos yang menutupi kepalanya. Ketika gw buka kain penutup, darah bercucuran keluar dari luka yang cukup lebar.

Timika pu Cerita (2) : Galeri (dibuang sayang)



Timika pu Cerita (2) : Galeri ( dibuang sayang)
gaya dulu sebelum pentas

cuap-cuap 11: Kids, of Theis



cuap-cuap 11: Kids, of Theis
Mereka tumbuh liar. Satu yang kusadari bahwa mereka tidak tumbuh sebagaimana mestinya anak-anak seharusnya tumbuh. Tanpa ibu. Tanpa seseorang yang selayaknya menjadi ibu.  Tanpa belaian lembut tangan halus ibu. Tanpa pelukan hangat ibu. Tanpa senandung merdu nyanyian penghantar tidur. Tanpa dongeng-dongeng kisah imaginatif tentang kehidupan.
Mereka tumbuh liar. Tumbuh di bawah naungan langit yang jauh. Berpijak pada bumi yang rapuh dan goyah. Mereka melihat tanpa bisa menilai. Mereka meniru tanpa mengerti arti. Apa yang akan terjadi, kelak pada mereka? Berkata kasar, bertindak cela, tertawa dan menangis dalam kegetiran yang tidak mereka sadari. Mereka punya masa kanak-kanak yang indah. Bebas, tanpa batas. Tapi mereka tak mengerti, apa yang sebenarnya ada di depan mereka, kini dan kelak. mereka layak mendapatkan lebih, lebih dari yang ada sekarang. Tapi apa yang harus dilakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kami lakukan?  kami adalah manusia yang peduli tapi tak sepenuhnya peduli. Kami adalah manusia yang mengerti tapi tak berarti lebih. Karena kami adalah manusia yang egosentris. Yang sebenarnya hanya peduli pada diri sendiri, berpusat dan bertindak hanya untuk kepentingan pribadi. Karena kami manusia egosentris. Kami berbicara tentang mereka. Tapi kami hanya bercerita dan berkisah. Satu kisah tentang manusia. Kids of Theis.
18 oktober 2014 18.40 wit
srotty jekson

mena, si pemburu & penjaring ikan yg handal

selma, satu dari sikembar selma-lily

yg paling terabaikan, rikson

Jumat, 12 Juni 2015

Candu

CANDU
Cinta itu candu. Sama juga dengan naik gunung, candu. Entah apa yg melatarbelakangi, dia akan selalu membawa mu untuk datang kembali dan kembali. Meski harus lelah, meski harus bersusah payah, meski harus menjadi kotor, basah, berlumuran tanah,meski harus terjatuh, bangkit dan terjatuh. Naik gunung itu candu. Tak ada kata yang bisa menggambarkan alasan kenapa harus kembali lagi dan lagi. Mungkin karena semilirnya, mungkin karena damainya, mungkin pula karena tawanya. Naik gunung itu candu. Tak ada kata yang dapat menggantikannya.
Jumat, 12 juni 2015 00.07 wit