Cuap-cuap PTT : Sekedar Bercerita
“ derita itu akan
menjadi lebih ringan ketika kita membaginya. Sedang kebahagiaan akan menjadi
berlipat ketika kita membaginya” –dee,2014-
Kamis, 3 Juli 2014 ( 5 Ramadhan 1435H)
Lamunan itu
terpecah ketika segerombolan orang datang membuat kericuhan di halaman tengah
puskesmas. Bukan orang mabok, bukan pula orang bertengkar. Seseorang yang
nampak tak seperti seseorang yang sakit dikerubuti oleh banyak orang. “dokter, dokter… tolong ini ada yang
kebakaran!!!” teriak seseorang dengan cemas padaku. Gw pun bergegas
mendekat. Semua orang nampak panik kecuali satu orang, orang yang terkena luka
bakar. “aish… ora popo yo… santé..
santé…” kata Om Pi’i, nama yang akhirnya kuketahui belakangan. Ekspresinya
jauh dari rasa sakit, malah sebaliknya hanya cengar-cengir bercanda. “wah… ganti kulit iki…”katanya lagi. Gw
cuman bengong, di level luka bakar seluas ini dengan bulla dimana-mana, Om Pi’i
masih saja bisa tertawa. Ketika seseorang bertanya tentang rasa sakit dirinya
menjawab,”hah… sakit’e wez lewat…. Santé
to…”katanya lagi. Gw gak terlalu percaya dengan apa yang dikatakannya. Gw
suruh omPi’I untuk berdiri di dekat sumur dan sekujur air langsung diguyurkan
padanya dan dirinya masih saja tertawa haha-hihi.
Luka bakar
derajat II dengan luas sekitar 20% yang mengenai lengan dan tungkai kiri om
Pi’I terjadi sekitar 6 jam sebelum dirinya tiba di puskesmas kami. lengan dan
tungkainya tersambar api ketika dirinya hendak menyalakan tungku dengan
menggunakan lentera yang berisi bensin, di tengah hutan, di salah satu camp
para penebang kayu. Om pi’i sendiri adalah seorang pemburu burung (semoga gw
gak salah menyebutkan), yang yaah, kesibukan hari-harinya ya di dalam hutan,
sehingga untuk bisa sampai di puskesmas butuh waktu berjam-jam lamanya.