Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2015

Diving with Nemo : Find a New Pleasure



Diving with Nemo : Find  a New Pleasure
*catatan harian 2 Juni 2015
Kenapa menyelam?? karena itu masuk dalam salah satu bucket list hidup gw. salah satu hal yang harus gw lakuin. Impian gw. adrenalin gw. gw gak bisa renang, gw takut tenggelam, gw takut air, gw takut kedalaman, gw takut kesunyian, gw takut kegelapan, dan gw takut mati. Tapi gw pengen belajar menyelam.


Minggu, 14 September 2014

cuap-cuap PTT : sekedar bercerita

Cuap-cuap PTT : Sekedar Bercerita

“ derita itu akan menjadi lebih ringan ketika kita membaginya. Sedang kebahagiaan akan menjadi berlipat ketika kita membaginya” –dee,2014-

Kamis, 3 Juli 2014 ( 5 Ramadhan 1435H)
Lamunan itu terpecah ketika segerombolan orang datang membuat kericuhan di halaman tengah puskesmas. Bukan orang mabok, bukan pula orang bertengkar. Seseorang yang nampak tak seperti seseorang yang sakit dikerubuti oleh banyak orang. “dokter, dokter… tolong ini ada yang kebakaran!!!” teriak seseorang dengan cemas padaku. Gw pun bergegas mendekat. Semua orang nampak panik kecuali satu orang, orang yang terkena luka bakar. “aish… ora popo yo… santé.. santé…” kata Om Pi’i, nama yang akhirnya kuketahui belakangan. Ekspresinya jauh dari rasa sakit, malah sebaliknya hanya cengar-cengir bercanda. “wah… ganti kulit iki…”katanya lagi. Gw cuman bengong, di level luka bakar seluas ini dengan bulla dimana-mana, Om Pi’i masih saja bisa tertawa. Ketika seseorang bertanya tentang rasa sakit dirinya menjawab,”hah… sakit’e wez lewat…. Santé to…”katanya lagi. Gw gak terlalu percaya dengan apa yang dikatakannya. Gw suruh omPi’I untuk berdiri di dekat sumur dan sekujur air langsung diguyurkan padanya dan dirinya masih saja tertawa haha-hihi.
Luka bakar derajat II dengan luas sekitar 20% yang mengenai lengan dan tungkai kiri om Pi’I terjadi sekitar 6 jam sebelum dirinya tiba di puskesmas kami. lengan dan tungkainya tersambar api ketika dirinya hendak menyalakan tungku dengan menggunakan lentera yang berisi bensin, di tengah hutan, di salah satu camp para penebang kayu. Om pi’i sendiri adalah seorang pemburu burung (semoga gw gak salah menyebutkan), yang yaah, kesibukan hari-harinya ya di dalam hutan, sehingga untuk bisa sampai di puskesmas butuh waktu berjam-jam lamanya.

Selasa, 04 Maret 2014

Cerita PTT : Kwarja - anak Ayam yang kehilangan Induknya


Cerita PTT : Kwarja  – Ayam yang Kehilangan Induknya

Minggu, 21 Februari 2014
Kembali bertugas untuk melakukan pelayanan kesehatan di kampung Kwarja. Dan Meski kami sudah tidak  ada ikatan kontrak dari dinkes kabupaten sebagai ‘tim flying care’ di kampung kwarja, kami tetap melakukan pelayanan di kampung tersebut sebagai bentuk pelayanan puskesmas Taja yang mem’cover’ seluruh wilayah distrik Yapsi, termasuk di dalamnya kampung Kwarja. Butuh waktu sekitar 2 ½ - 3 jam untuk mencapai lokasi yang kami tuju, lebih singkat disbanding waktu pertama kali kami masuk ke kampung ini, 6 jam perjalanan. Kwarja yang terletak di bagian timur laut distrik Yapsi merupakan salah satu kampung penduduk asli papua yang ada di distrik Yapsi, selain kampung Tabeyan, kampung Bundru, dan kampung Rifi. Masyarakat kwarja mempunyai bahasa suku sendiri, bahasa Kwarja yang hanya dimengerti ya oleh orang kwarja. Kata salamnya kwarja adalah,”amsan..”..

Cuap-cuap PTT part 4: Move On - Antara Masa Lalu dan Masa Depan


Cuap Cuap PTT part 4 : Move On – Antara Masa Lalu dan Masa Depan

Selasa, 7 Januari 2014 : Anak-anak Timor di Kampung Trans Ongan Jaya

“Masa Lalu adalah Masa dimana Kejadian  Buruk pun bisa menjadi Hal yang Lucu jika Dikenang”

Matahari yang merona jingga senja itu di kampung Ongan Jaya , Taja. Di sebuah kampung transmigrasi di pelosok pedalaman Papua. Konon, di akhir tahun 1980an ketika misionaris dan tentara masuk, masyarakat asli belum mengenal cara berpakaian, tinggal di Hutan, dan masih terisolir. ketika misionaris dan tentara masuk, masyarakat pergi bersembunyi, menganggap orang asing datang untuk membunuh mereka. namun tak butuh waktu lama, masyarakat asli Taja ini mulai terbuka, dikenalkan tentang cara berpakaian, bercocok tanam, dan dibuatkan rumah sosial dalam sebuah kampung untuk bertempat tinggal. Tak berselang lama, di awal tahun 1990an, kurang lebih di tahun 1994, ketika program transmigrasi sedang ramai-ramainya digalakkan, kampung Taja dibuka sebagai wilayah transmigrasi. Dari Jawa, dan dari Nusa Tenggara (Timur terutama), mereka yang sulit mencari pangan dan merajut hidup dikirim dan dipindahkan di sini. 


Sabtu, 30 Maret 2013

..mumpung belum...


Mumpung Belum


merenungkan perkataan banyak orang pada obrolan2 beberapa waktu belakangan, semuanya kurang lebih sama. " mumpung, mumpung masih bujang, mumpung belum ada tanggungan,dan mumpung belum menikah dan berumah tangga." jalan jalan, bersenang senang, menghabiskan uang, dan segala sesuatu yg dianggap suatu kenikmatan yang bisa dinikmati "mumpung belum...." . Suatu kebebasan yang bisa dirasa "mumpung belum.." . Hingga kemudian pertanyaan dalam benak muncul. Sebegitu mengerikannya kah titik itu. Titik dimana langkah itu terhenti. Atau lebih tepatnya Harus Terhenti. Seakaan tak ada istilah 'Kenikmatan' 'Kesenangan' dan 'Kebebasan' hingga mungkin aku harus memilih untuk tetap pada jalur ini, tanpa perlu melangkah cepat atau tergesa menuju titik itu. Titik yang makin terasa menyeramkan dan menakutkan... "Mumpung belummm..."
Sabtu 30 maret 2013 09.35

Selasa, 12 Maret 2013

solo travelling

Solo Travelling

Solo travelling itu mengajarkan kita pada banyak hal. Berdiri tegak pada kaki sendiri, tegas dalam menentukan arah, berbagi rasa dengan orang asing, dan belajar tak mengeluh terhadap situasi apapun yang ada di depan. Tetap semangat! dan mari terus melangkah ^^
selasa 12 maret 13 15.15

(picture taken at Klara Beach, March 23rd 2013, by Rendi)