Tampilkan postingan dengan label ptt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ptt. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

taja


mereka memberikan kehangatan kala dingin menyergap
mereka memberikan tawa ketika air mata tak mampu dibendung
mereka memberikan kesejukan ketika amarah begitu menggebu
dan mereka memberikan kenangan, yang entahlah, mungkin tak bisa kudapat di tempat lain..

Thx Taja, and thanx for all of memory ^^

Selasa, 30 Juni 2015

Cerita PTT : Kwarja dan Kebersamaan Kami Bersama



Cerita PTT : Kwarja dan Kebersamaan Kami Bersama

“karena kehangatan tak harus berbicara tentang dibalik selimut, cukup dengan berbagi waktu bersama di setiap waktu yang ada, maka kehangatan itu menjadi lebih dari sekedar berbicara tentang di balik selimut ”
–dee,2015


Timika pu Cerita (3) : Timika Itu…



Timika pu Cerita (3) : Timika Itu…
Banyak orang beranggapan bahwa timika itu ‘gak ada apa-apa’. Ok, untuk segi pariwisata, timika bukanlah salah satu kota tujuan pariwisata di Indonesia timur. Jayapura, Wamena, Merauke, Kaimana, Sorong, Raja Ampat, Nabire jauh-jauh lebih rekomended untuk disinggahi disbanding timika. Tapi jika kebetulan ada kesempatan maen ke timika,misalnya tugas kerja , atau ‘iseng’ kayak gw (karena harga tiket dari jayapura ke luar kota paling murah cuman merauke dan timika, dan kebetulan ada kawan tinggal di timika), mungkin ini beberapa hal yang bisa ditemukan di timika.

Timika pu Cerita (2) : Galeri (dibuang sayang)



Timika pu Cerita (2) : Galeri ( dibuang sayang)
gaya dulu sebelum pentas

Timika pu Cerita (1) : Bahagia karena Tuhan



 Timika pu Cerita (1) : Bahagia karena Tuhan

di suatu waktu pada suatu tempat. Dimana untuk pertama kalinya gw belajar, bahwa dalam sebuah perjalanan, terkadang, bukan destinasi yang kita cari. Makna hidup, arti hidup, dan pembelajaran hidup. Pada suatu waktu, pada suatu tempat yang tak tanpa gw sangka, gw menemukan satu cerita lain tentang kehidupan.

Namanya Friska. Friska Simanjuntak. Seorang kawan,yang baru beberapa waktu kukenal, dalam sebuah ketidaksengajaan di sebuah perjalanan, di wamena. Dan, tak lama berselang, gw berkunjung ke tempatnya bekerja, Timika. Kata banyak orang, Timika bukanlah suatu kota destinasi wisata. Sebagian besar orang mengunjungi Timika untuk urusan pekerjaan, dan uang. Freeport, menjadi salah satu focus utamanya. Seperti kata friska,” mo kemana tut?? Di sini gak ada apa-apa si. Mo lihat suku aslinya juga susah, harus ke pedalaman. paling di sini yang special yang sekolahanku. Jadi, kita maen ke sekolahku saja yak…”. Dan, begitulah, maka kemudian, sekolah friska menjadi satu cerita yang tertinggal dari Timika.

cuap-cuap 11: Kids, of Theis



cuap-cuap 11: Kids, of Theis
Mereka tumbuh liar. Satu yang kusadari bahwa mereka tidak tumbuh sebagaimana mestinya anak-anak seharusnya tumbuh. Tanpa ibu. Tanpa seseorang yang selayaknya menjadi ibu.  Tanpa belaian lembut tangan halus ibu. Tanpa pelukan hangat ibu. Tanpa senandung merdu nyanyian penghantar tidur. Tanpa dongeng-dongeng kisah imaginatif tentang kehidupan.
Mereka tumbuh liar. Tumbuh di bawah naungan langit yang jauh. Berpijak pada bumi yang rapuh dan goyah. Mereka melihat tanpa bisa menilai. Mereka meniru tanpa mengerti arti. Apa yang akan terjadi, kelak pada mereka? Berkata kasar, bertindak cela, tertawa dan menangis dalam kegetiran yang tidak mereka sadari. Mereka punya masa kanak-kanak yang indah. Bebas, tanpa batas. Tapi mereka tak mengerti, apa yang sebenarnya ada di depan mereka, kini dan kelak. mereka layak mendapatkan lebih, lebih dari yang ada sekarang. Tapi apa yang harus dilakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kami lakukan?  kami adalah manusia yang peduli tapi tak sepenuhnya peduli. Kami adalah manusia yang mengerti tapi tak berarti lebih. Karena kami adalah manusia yang egosentris. Yang sebenarnya hanya peduli pada diri sendiri, berpusat dan bertindak hanya untuk kepentingan pribadi. Karena kami manusia egosentris. Kami berbicara tentang mereka. Tapi kami hanya bercerita dan berkisah. Satu kisah tentang manusia. Kids of Theis.
18 oktober 2014 18.40 wit
srotty jekson

mena, si pemburu & penjaring ikan yg handal

selma, satu dari sikembar selma-lily

yg paling terabaikan, rikson

Minggu, 14 September 2014

Accidental Story of Wamena (1) : Where am I ?



Accidental Story of Wamena (1): Where am I ?
*Starting to write something

 Day 1 : Augt 8th 2014 - FBLB – Goa Lokale – Mumi Jiwika – Bukit Batu – Pasir Putih
Matahari bersinar malu-malu dari balik kerumunan awan pagi itu ketika gw bersiap berbegas menuju bandara. Ruang tunggu Bandar udara sentani begitu ramai malas meski waktu masih menunjuk pada pukul 06.00 pagi. Waktu bergulir, satu persatu pesawat dengan berbagai jurusan terbang mengikuti pengumuman penerbangan pesawat yang dikumandangkan. Trigana air IL-241 yang seharusnya termasuk pesawat yang terbang di awal tak kunjung disiarkan. Ternyata seperti dugaan banyak orang, trigana terlambat terbang oleh karena banyak alasan. Di salah satu sudut ruang tunggu gw menanti, berkutat dengan gadget untuk sekedar mengalihkan waktu, sambil sesekali mengamati orang-orang di sekeliling.  Susasa ruang tunggu bandara yang ramai mendayu, simpulku.

Trigana ATR = Kursi Pijat
Sekitar pukul 08.15,  1 ½ jam lewat melebihi jadwal terbang seharusnya, pesawat trigana kami pun pada akhirnya lepas landas dan mengudara. Untuk pertama kalinya gw naik pesawat tipe ATR. Dan rasanya naek pesawat ATRnya Trigana itu berasa seperti sedang duduk di kursi pijat, getarannya, terasa dari ujung kaki sampe ujung kepala. Sehingga meski kata orang 30 menit itu cepat, bagi gw, 30 menit dalam pesawat ATR trigana terasa lamaaaa banget *semogalekassampai dengan selamat

jalan-jalan : Pantai Hamadi



Jalan- Jalan : Pantai Hamadi 



 “kamu sgalanya, tak terpisah oleh waktu. Biarkan bumi menolak kutetap cinta kamu..
Judika – mama papa larang

Lagu –lagu Judika meramaikan perjalanan kami sabtu siang itu menuju pantai Hamadi. Piknik Keluarga menjadi tema perjalanan gw kali ini. “yuk.. ke pantai. rame-rame, sekeluarga. Mumpung libur semua” Pinta gw yang pada akhirnya berlanjut dengan 4 mobil yang dipenuhi oleh keluarga besar tante ipar gw. di mobil kakak sepupu gw, ada gw, adek gw, kakak sepupu gw, anaknya, om gw beserta tante dan dua anaknya.
Pantai Hamadi, yang terletak di distrik Hamadi, Kota Jayapura, merupakan salah satu objek wisata pantai favorit yang ramai dikunjungi saat musim liburan. Selain pantainya yang panjang, bersih, berpasir putih, dan mudah di akses, pantai ini sudah dikelola dengan cukup baik oleh masyarakat setempat sehingga nyaman untuk dikunjungi. Para-para / bale-bale atau apapun itu namanya berdiri rapi di sepanjang pesisir pantai. toilet / kamar mandi baik permanen maupun yang hanya berdindingkan anyaman bamboo pun sudah tersedia banyak di dekat para-para. Di pintu masuk, beberapa penduduk lokal akan menarik tariff masuk sebesar 20.000 permobil atau 10.000 permobil tanpa melihat jumlah penumpang sebagai pengunjung. Sedangkan untuk bale-balenya satu bale-bale akan dipungut biaya sekitar 50.000 – 100.000. yah, cukup murah lah untuk acara piknik keluarga.

cuap-cuap PTT : sekedar bercerita

Cuap-cuap PTT : Sekedar Bercerita

“ derita itu akan menjadi lebih ringan ketika kita membaginya. Sedang kebahagiaan akan menjadi berlipat ketika kita membaginya” –dee,2014-

Kamis, 3 Juli 2014 ( 5 Ramadhan 1435H)
Lamunan itu terpecah ketika segerombolan orang datang membuat kericuhan di halaman tengah puskesmas. Bukan orang mabok, bukan pula orang bertengkar. Seseorang yang nampak tak seperti seseorang yang sakit dikerubuti oleh banyak orang. “dokter, dokter… tolong ini ada yang kebakaran!!!” teriak seseorang dengan cemas padaku. Gw pun bergegas mendekat. Semua orang nampak panik kecuali satu orang, orang yang terkena luka bakar. “aish… ora popo yo… santĂ©.. santĂ©…” kata Om Pi’i, nama yang akhirnya kuketahui belakangan. Ekspresinya jauh dari rasa sakit, malah sebaliknya hanya cengar-cengir bercanda. “wah… ganti kulit iki…”katanya lagi. Gw cuman bengong, di level luka bakar seluas ini dengan bulla dimana-mana, Om Pi’i masih saja bisa tertawa. Ketika seseorang bertanya tentang rasa sakit dirinya menjawab,”hah… sakit’e wez lewat…. SantĂ© to…”katanya lagi. Gw gak terlalu percaya dengan apa yang dikatakannya. Gw suruh omPi’I untuk berdiri di dekat sumur dan sekujur air langsung diguyurkan padanya dan dirinya masih saja tertawa haha-hihi.
Luka bakar derajat II dengan luas sekitar 20% yang mengenai lengan dan tungkai kiri om Pi’I terjadi sekitar 6 jam sebelum dirinya tiba di puskesmas kami. lengan dan tungkainya tersambar api ketika dirinya hendak menyalakan tungku dengan menggunakan lentera yang berisi bensin, di tengah hutan, di salah satu camp para penebang kayu. Om pi’i sendiri adalah seorang pemburu burung (semoga gw gak salah menyebutkan), yang yaah, kesibukan hari-harinya ya di dalam hutan, sehingga untuk bisa sampai di puskesmas butuh waktu berjam-jam lamanya.

Jumat, 06 Juni 2014

berceritanya Raja Ampat (part III)

berceritanya Raja Ampat (part III)


H-5, Senin, 10 Maret 2014 : “UNO!!!”
(location : Yenbesser – Teluk Kabui – Goa ?? – Pulau ?? – Kampung Besar,Yenbesser)




Namanya teluk kabui, sebuah teluk yang terletak diantara waisai dan yenbesser, menjadi satu destinasi kami  di hari kelima kami di raja ampat. Sebuah teluk sunyi, yang dipenuhi oleh batu-batu karang rapuh yang ditumbuhi banyak pepohonan hijau. Sebuah teluk yang dengan air laut yang tenang, yang mempunyai hawa tersendiri, yang berbeda disbanding di tempat lain. perahu speed yang membawa kami melaju lamban menyusuri teluk menembus celah-celah pulau batu karang yang berdekatan. Satu keeskostikan yang membawa kekaguman pada kami yang baru pertama kali melihatnya. Berputar, dan berputar perahu mengelilingi teluk yang tak berpenghuni.

Selasa, 04 Maret 2014

Cuap-cuap PTT : Funny February


Cuap Cuap PTT part 5 : Funny February

Senin, 10 Februari 2014 : Cerita Lumpur dan Belut 
jackson theis - 4 years old
Sudah dua hari ini Taja diguyur hujan tiada henti. Kadang deras,kemudian berganti menjadi gerimis, kemudian deras sebentar, dan gerimis berlanjut berkepanjangan. Termasuk hari ini, meskipun hari senin adalah hari kerja karena hujan terus turun sedari tengah malam, petugas baru tiba sekitar pukul 10.00 wit lewat dan  beberapa bahkan tidak masuk kerja (sudah biasa di sini), pasien pun hanya satu dua, tak banyak kesibukan, sehingga melamun menjadi salah satu pilihan (ok, daripada nggosip kan?)
Memandang jauh keluar jendela. Taja benar-benar basah. Dan, ketika memandang jauh, menemukan anak-anak tengah asik bermandikan lumpur. Tunggu, bukan main lumpur. Mereka melongok jauh ke dalam genangan lumpur yang banyak di sekitar komplek puskesmas. Banyak kubangan tanah lumpur yang jika musim hujan, benar-benar nampak seperti lahan untuk bersawah, menanam padi. Ada yang mereka cari di dalam genangan lumpur tersebut. Bahkan semenjak kemaren malam, dengan sepatu boot, baju yang diikatkan di kepala, dalam rintikan hujan gerimis mereka asik ‘mengobok-obok’ kubangan lumpur yang ada. Gw pun mendekat, penasaran dengan apa yang mereka lakukan dengan ‘kostum perang’ yang menurut gw lucu.

Cerita PTT : Kwarja - anak Ayam yang kehilangan Induknya


Cerita PTT : Kwarja  – Ayam yang Kehilangan Induknya

Minggu, 21 Februari 2014
Kembali bertugas untuk melakukan pelayanan kesehatan di kampung Kwarja. Dan Meski kami sudah tidak  ada ikatan kontrak dari dinkes kabupaten sebagai ‘tim flying care’ di kampung kwarja, kami tetap melakukan pelayanan di kampung tersebut sebagai bentuk pelayanan puskesmas Taja yang mem’cover’ seluruh wilayah distrik Yapsi, termasuk di dalamnya kampung Kwarja. Butuh waktu sekitar 2 ½ - 3 jam untuk mencapai lokasi yang kami tuju, lebih singkat disbanding waktu pertama kali kami masuk ke kampung ini, 6 jam perjalanan. Kwarja yang terletak di bagian timur laut distrik Yapsi merupakan salah satu kampung penduduk asli papua yang ada di distrik Yapsi, selain kampung Tabeyan, kampung Bundru, dan kampung Rifi. Masyarakat kwarja mempunyai bahasa suku sendiri, bahasa Kwarja yang hanya dimengerti ya oleh orang kwarja. Kata salamnya kwarja adalah,”amsan..”..

Cuap-cuap PTT part 4: Move On - Antara Masa Lalu dan Masa Depan


Cuap Cuap PTT part 4 : Move On – Antara Masa Lalu dan Masa Depan

Selasa, 7 Januari 2014 : Anak-anak Timor di Kampung Trans Ongan Jaya

“Masa Lalu adalah Masa dimana Kejadian  Buruk pun bisa menjadi Hal yang Lucu jika Dikenang”

Matahari yang merona jingga senja itu di kampung Ongan Jaya , Taja. Di sebuah kampung transmigrasi di pelosok pedalaman Papua. Konon, di akhir tahun 1980an ketika misionaris dan tentara masuk, masyarakat asli belum mengenal cara berpakaian, tinggal di Hutan, dan masih terisolir. ketika misionaris dan tentara masuk, masyarakat pergi bersembunyi, menganggap orang asing datang untuk membunuh mereka. namun tak butuh waktu lama, masyarakat asli Taja ini mulai terbuka, dikenalkan tentang cara berpakaian, bercocok tanam, dan dibuatkan rumah sosial dalam sebuah kampung untuk bertempat tinggal. Tak berselang lama, di awal tahun 1990an, kurang lebih di tahun 1994, ketika program transmigrasi sedang ramai-ramainya digalakkan, kampung Taja dibuka sebagai wilayah transmigrasi. Dari Jawa, dan dari Nusa Tenggara (Timur terutama), mereka yang sulit mencari pangan dan merajut hidup dikirim dan dipindahkan di sini. 


Rabu, 22 Januari 2014

Cuap Cuap PTT part 3 : Lain Cerita Cerita lain



Cuap Cuap PTT : Lain Cerita Cerita lain
Minggu, 3 November 2013 : Langit Taja
Langit Taja di siang hari yang cerah. Duduk di bangku kayu kios depan puseksmas sembari menyeruput dinginnya Nata De Coco sembari termenung berpaku tangan. Dimana gw sekarang?entahlah. di negeri antah berantah yang entah dimana. Di tempat yang gw gak pernah sedetikpun berpikir membayangkannya. Gak ada seorang pun yang gw kenal, gak ada seorang pun. Gw termenung lagi, melihat awan yang semakin banyak mengumpul layaknya kembang gula yang siap dilahap raksasa langit. Gw tersenyum, menengok ke belakang melihat tingkah alfa anak kkKies yang asik dengan sepedanya, seorang Jawa yang lahir di Tanah Papua. Gw gak sendiri,

Selasa, 21 Januari 2014

Jalan-Jalan PTT : Amay

Jalan-jalan PTT : Pantai Amay, Depapre

 
Pagi menuju siang. Mobil yang hendak mengantarkan kami belum datang…. Septia!!!!! Lo dimana? Lo dah bangun kan? Kitong di sentani dah nunggu ni.... cepetaannn... !!! klo lama, entar gw toki lo lho...” kata gw teriak2 ditelpon karena si septia dan mobil pesanan belum datang. Driver yang sekaligus abangnya septia ternyata masih enak terlelap. Pada akhirnya, jam 09.00an kiotng baru jalana dari sentani. Pantai Amay yang kami tuju hari ini sebenernya gak terlalu jauh dari sentani. Masih satu kabupaten, kabupaten jayapura, 38an kilometer ke arah barat-utara, di distrik Depapre. Mobil melaju dengan santainya bersama kami bertujuh, gw, bidan Ati, pacar Ati – anto’ yg jauh2 datang dari palopo, 3 brondong Taja, Septia, Amir, Ali, dan  kak Lukman. Jalan menuju Pantai Amay gak terlalu jelek., su beraspal, cuman yaah, lagu lama, banyak lubang di sana sini. Jalanya juga gampang, dan cuman satu aja jalan ke sana, jamin gak bakal tersesat.
Sesampai di persimpangan pertigaaan jalan Depapre, ambil arah kanan, ke arah pantai amay (kalo lurus, ke arah pantai tablanusu). Sebenernya, jarak antara pantai tablanusu dan pantai amay tuh deket, paling cuman 8 kilometeran ajah. Dari pertigaan jalan depapre untuk sampai amay sekitar 15 menitan..